Tulisan Berdasarkan Tanggal

August 2016
M T W T F S S
« May    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Arsip Tulisan (Bulan)

All
0
Applications
0
Personal
0
Windows 10
0
Windows Phone
0

Apa Saja Bisa Ditulis

21 August 2016
Apa Saja Bisa Ditulis   Sore tadi saya menggunakan layanan transportasi Uber sekira pukul 17.30. Tak lama berselang saya mendapatkan notifikasi via email bahwa perjalanan saya hanya dikenakan charge Rp19,00 (sembilan belas rupiah) karena saya menggunakan bonus free ride, kalau aslinya sih sekitar Rp40.519,00. Sekitar pulul 20.45 saya mendapatkan notifikasi email bahwa saya mendapatkan free ride lagi Rp30.000,00 dari kode promo UBERGETREVENUE yang pernah saya tuliskan dan saya bahas melalui blog. Saya kembali menggunakan layanan tersebut 15 menit kemudian dan tagihan saya sebesar Rp421,00 dari yang sebenarnya Rp65.921,00, tentu saja setelah dikurangi dari bonus free ride (lagi). Kira-kira berselang 30 menit kemudian (pukul 21.30) saya mendapatkan notifikasi bahwa saya mendapatkan free ride lagi Rp30.000,00. Lagi, dari apa yang pernah saya tuliskan di blog. Akhir-akhir ini saya lebih sering menggunakan layanan Uber karena free ride yang saya dapatkan kebanyakan akan habis masa berlakunya akhir agustus ini, meski sebenarnya masih ada juga yang berlaku sampai bulan November mendatang. Tadinya saya nulis kode promo free ride di blog hanya iseng, bagaimanapun saya juga tidak rugi kalaupun nantinya tidak ada yang menggunakan kode UBERGETREVENUE, toh itu hanya tulisan ala kadarnya. Bahkan, tulisan tersebut bukan lagi berada di blog utama saya tetapi ada di blog yang hanya berisi arsip dan tidak akan pernah saya update dengan tulisan baru. Hal remeh apa saja bisa ditulis dan bisa jadi suatu ketika entah penulis maupun pembaca akan mendapatkan manfaat. Selamat menulis. Oh ya, ini tulisan yang saya maksud: Kode Promo Uber, Free Rp75.000,00.

Office365 Enterprise E3 dan Outlook 2016

10 August 2016
Account Microsoft Office 365 pada Outlook 2016     Saya merupakan pengguna Microsoft Office365 Enterprise E3 sejak sua tahun terakhir ini. Saya baru saja ganti komputer dan perlu melakukan setup ulang aplikasi Microsoft Office terutama Microsoft Outlook di komputer. Ketika saya akan menambahkan akun Office365 saya –xxxx(at)nahdhi.com– saya menemui masalah, yaitu pilihan setup untuk Microsoft Exchange dan ActiveSync untuk Office365 tidak ada. Ternyata konfigurasi Exchange Account pada Microsoft Outlook 2016 harus menggunakan AutoDiscover, sementara pengaturan DNS domain saya tidak saya set untuk AutoDiscover alias tidak published. Pada Outlook 2013 saya menggunakan PRF untuk konfigurasi, tetapi metode ini sudah tidak dapat diaplikasikan pada Outlook 2016. Untuk sekali setup, saya coba untuk mempublish AutoDiscover domain, tetapi rupanya Outlook kelamaan untuk mencari AutoDiscover record pada DNS. Saya mencoba mencari-cari cara lain supaya dapat mengkonfigurasikan akun Office365 saya dan segera dapat digunakan untuk berkirim email, skype, sinkronisasi kontak, dan jadwal. Akhirnya ketemu di slipstick. Buka Registry Editor (regedit) dan jalankan sebagai Administrator, arahkan pada direktori registry berikut: HKEY_CURRENT_USER\SOFTWARE\Microsoft\Office\16.0\Outlook\AutoDiscover\ Selanjutnya, tambahkan lima record berikut dengan tipe DWORD (32bit) dan value 1: DWORD: ExcludeHttpsRootDomain DWORD: ExcludeScpLookup DWORD: ExcludeHttpsAutoDiscoverDomain DWORD: ExcludeHttpRedirect DWORD: ExcludeSrvRecord Pastikan record ada pada lokasi yang benar dan value sudah sesuai. Tanpa menutup Registry Editor, lakukan restart Outlook 2016 dan kembali tambahkan akun Office365 melalui Add Account wizard. Masukkan nama, alamat email -misal xxx(at)nahdhi.com-, kemudian password. Klik Next dan biarkan Outlook melakukan konfigurasi otomatis sampai selesai. Apabila konfigurasi sudah selesai, segera hapus lima record yang ditambahkan pada Registry Editor tadi karena apabila tidak dihapus dapat menyebabkan error saat menambahkan akun lain (misal gmail.com, yahoo.com, atau outlook.com). Restart Outlook 2016 supaya Outlook terkonfigurasi dengan akun Office365 sekaligus konfigurasi ActiveSync, Skype (Lync), dan fungsi-fungsi lain.

Etika di WhatsApp Group

19 April 2016
Menjaga Marwah di Grup WhatsApp   Barangkali hampir semua pengguna gawai canggih memiliki akun WhatsApp. Untuk menjalin komunikasi, Itu jelas. Pernahkah anda merasa terganggu karena notifikasi yang tang-ting-tung hampir setiap saat dari group WhatsApp yang anda buat atau anda ikuti? Berapa sih jumlah group yang anda ikuti di WhatsApp? Nah, bagaimana supaya merasa tidak terganggu dan tidak mengganggu sesame “penghuni” group? Merasa terganggu pasti pernah lah ya. Aku juga termasuk orang yang kadang dalam saat-saat tertentu merasa terganggu karena saking rame-nya group WhatsApp. Yah, meski sebenernya aku hanya masuk di 12 group WhatsApp. Dari 12 group itu, dua diantaranya aku menjadi admin group dan 10 group lainnya diluar penguasaanku. Perlakuan paling gampang dan hampir tidak membawa efek kurang baik ketika merasa terganggu dengan ramenya group WhatsApp adalah dengan MUTE. Ya, matikan notifikasi untuk group-group tertentu. Apabila masih kurang nyaman, tak ada salahnya keluar dari group. Sungkan? Ya tentu perasaan itu akan ada. Tapi keluarlah baik-baik, jangan meninggalkan jejak buruk di dalam group. Jadilah anggota group yang baik. Aku memiliki beberapa “aturan” untuk diriku sendiri ketika ada di dalam sebuah group. Kenali seisi anggota group Perlahan, kenali satu persatu anggota group sampai pada tingkatan karakternya. Jangan sungkan untuk menjadi anggota group pasif (silent reader) terlebih dahulu. Tak semua orang bisa diajak bercanda sampai level tertentu, terlebih kadang ada perbedaan umur yang signifikan antar anggotanya menyebabkan level guyonan juga berbeda. Mungkin bagi kebanyakan anggota group guyonan pada level tertentu adalah biasa, tapi bisa jadi ada sedikit anggota group yang menganggap guyonan itu sudah kelewatan dan melanggar marwah (pakai bahasa setil-nya anggota dewan). Hargai privasi orang lain Memposting foto orang lain yang memalukan di group adalah tindakan tidak terpuji. Jadi hindari memposting gambar atau capture status orang lain yang dirasa memalukan atau mengganggu privasi di group, terlebih orang tersebut ada di dalam group yang sama. Setiap individu di dalam group akan terusik ketika dilanggar privasinya. Paling tidak, jangan sampai benar-benar terekspos identitas yang ada di dalam gambar kalau memang hanya untuk sekedar joke. Gampangnya aplikasi WhatsApp yang bisa copy-paste atau forward membuat persebaran konten menjadi tak terkendali. Kita tak pernah tahu kemana saja konten yang kita post di WhatsApp tersebar. Hargai waktu berkualitas orang lain Maksudku tentu saja ada momen-momen tertentu yang orang lain mengharapkan ketenangan, sebut saja waktu beristirahat malam. Perkirakan saja zona waktu dari kebanyakan anggota group. Buat batasan kira-kira pukul berapa kebanyakan orang istirahat tidur malam. Aku mengusahakan untuk tidak posting di group antara pukul 22.00 sampai dengan pukul 08.00. Beberapa group yang kuikuti berisi orang-orang lintas zona waktu. Ada yang ketika ditempatku sudah menjelang siang, di tempat lain masih malam dinihari. Ambil saja mayoritas orang yang ada di group ada di zonasi waktu yang mana. Posting sesuai tema Beberapa group WhatsApp dibuat untuk tujuan tertentu atau tema tertentu. Misal group teman-teman SMA, teman-teman Kuliah, group Komunitas Blogger, group untuk persiapan acara tertentu, dan masih banyak lagi. Usahakan apa yang dibicarakan sesuai dengan tema atau tujuan tersebut. Kalaupun ada joke atau candaan, jangan sampai mendominasi konten sehingga mengurangi marwah group

Dua Hari di Bojonegoro

18 April 2016
Kunjungan Pertama ke Bojonegoro   Jumat 15 April 2016, aku berkesempatan untuk pertamakalinya ke Bojonegoro dengan naik kereta api (pertama kali juga naik kereta jalur pantura). Tujuanku kali ini cukup sederhana, berkumpul dengan teman-teman Kelas Inspirasi Bojonegoro dalam rangka persiapan KI Bojonegoro yang ke-empat. Sengaja aku memilih Bojonegoro untuk turut berpartisipasi sebagai relawan pengajar di kelas inspirasi. Kebetulan juga, ini adalah kali pertama aku ikut Kelas Inspirasi Bojonegoro. Aku memulai perjalanan dari Stasiun Pasar Senen pada hari Jumat tepat pukul 12.00 siang hari. Sedianya aku akan memilih perjalanan yang agak sore tetapi kupikir kasihan nanti teman di Bojonegoro kalau jemput tengah malam. Jadilah aku naik kereta api Jayabaya berangkat dari Stasiun Pasar Senen dan turun di Stasiun Bojonegoro sekira pukul 21.45 waktu setempat. Sampai di Bojonegoro aku langsung menghubungi Mas Rivaldy yang akan menjemputku di stasiun. Beberapa hari sebelumnya aku telah menghubungi Nova Wijaya untuk keperluan penjemputan sekaligus menginap selagi aku di Bojonegoro. Selang beberapa waktu, aku sudah sampai di Rumah TIK Bojonegoro tempatku menginap kali ini. Sebagai informasi, Rumah TIK ini adalah pusat kegiatan dan sekretariat Relawan TIK Bojonegoro. Kebanyakan aktivis di tempat ini masih mahasiswa, beberapa ada pengusaha, dan lainnya pekerja. Karena sudah malam, kupikir kondisi selarut ini sudah cukup sepi tetapi ternyata masih ramai oleh aktifitas pemuda harapan bangsa asli Bojonegoro. Setelah berkenalan, obrolan diantara kami mulai mengalir yang mulai dari sekedar obrolan mengenai kabar masing-masing, menjalar ke aktifitas RTIK di kota masing-masing, berlanjut soal Kelas Inspirasi itu sendiri, sampai perihal aktifitas blogging. Kebetulan beberapa tahun silam komunitas blogger Bojonegoro seringkali bersinggungan (dalam arti positif) dengan komunitas blogger Magelang. Menyoal blogging pun kisah pertemuan yang kami ceritakan mulai dari pertemuan konco-konco blogger di Wonosobo tahun 2009 sampai beberapa yang terakhir yaitu pertemuan di Bandung dalam rangka Festival RTIK. Kebetulan, kebanyakan aktivis RTIK di Bojonegoro juga dari teman-teman blogger begitupun juga teman-teman aktivis RTIK Magelang yang kebanyakan “lungsuran” blogger. Berbicara mengenai inti dari kedatanganku ke Bojonegoro, tujuannya adalah mengikuti pertemuan pra-pelaksanaan Kelas Inspirasi Bojonegoro yang ke-empat. Bagaimana bisa aku “kesasar” ke Bojonegoro sementara ada banyak juga Kelas Inspirasi lain semisal di Jakarta, Sukabumi, Lamongan, Karawang, dll? Pertanyaan itu juga yang sempat ditanyakan teman-teman di Bojonegoro. Jawaban jujur, sakjane cuma pengen ketemu Mbak Nova Wijaya yang sempat hits dan bahkan sempat jadi trending topic berhari-hari di kalangan teman-teman RTIK Magelang beberapa waktu yang lalu. Terlebih lagi pasca beredar foto bareng artis oleh GusMul itu. Jawaban slengekan, ya tentu saja sangat normatif. Mau memperkenalkan kira-kira kegiatan dan profesi apa saja yang dilakukan di industri hulu migas, mengingat Bojonegoro punya potensi yang tak sedikit di sektor ini. Paling tidak, aku berharap kedepan semakin banyak orang asli Bojonegoro yang turut berpartisipasi aktif (dan langsung) mengelola sumberdaya alam yang dimilikinya. Bukan tak mungkin kan suatu saat semua kegiatan sektor migas di Bojonegoro benar-benar dikuasai warga asli Bojonegoro? Kembali mengenai kisah kedatanganku ke Bojonegoro. Hari berikutnya, Sabtu 16 April 2016 aku berkumpul yang benar-benar berkumpul di Pendopo Malowopati dengan hampir semua aktivis Kelas Inspirasi dari mulai relawan fasilitator, dokumentator, dan pengajar. Ah ya, ini

Souvenirs

13 April 2016
Sesuai janjiku dalam tulisan Halo Dunia. Aku telah selesai mengembalikan semua tulisan-tulisan blogku. Tentu saja benar, aku mengembalikan hampir seluruh tulisan dari sejak awal aku mulai ngeblog. Baca saja tulisanku mengenai Influencers yang di bagian akhir sedikit kujelaskan bagaimana aku sering sekali pindah rumah. Mohon maklum ya, cuma ngontrak sih. Kenapa untuk arsip lawas kuletakkan di bagian tersendiri dalam paket Souvenirs? Sebenernya tadinya mau kudiamkan dalam judul aslinya, Write – Is typing. Tapi kupikir karena ini merepresentasikan tulisan-tulisan lama (yang sekedar untuk ingatan atau mengingat saja), jadilah aku ubah judulnya menjadi Souvenirs. Aku nggak ngerti secara tata bahasa sudah bener atau belum perihal artinya sesuai dengan yang kuharapkan, tapi nama ini kusadur dari judul blog salah satu blog favoritku, Katja (baca Katiya) “Black Rabbit in The Dark”. Sayangnya blog beliau sudah tidak pernah update sejak tahun 2014 dan lebih banyak berkarya di YouTube melalui kanal Snow White Siren. Namun, kupikir pilihan beliau sudah tepat karena yang menyebabkan blog-nya menjadi favorit adalah posting-posting musiknya yang enak didengerin. Piano sheet-nya Mbak Katja bisa dicoba dimainkan sendiri lho kalau sampeyan bisa. Eh hai Mbak Katja, nih udah aku endorse. Bayar! 😀 Lanjut lagi mengenai apa saja yang aku kembalikan, tidak semua tulisan kukembalikan. Beberapa tulisan, terutama tulisan sebelum tahun 2009 kusimpan sebagai arsip pribadi, you know lah ya gimana tulisan anak remaja pada masa itu lumayan harshing-harshing gimana gitu. Serius, setelah kubaca ulang mulai tulisan pertamaku aku senyam-senyum sendiri betapa aku ini apalah-apalah pada masa itu. Itulah kenapa tidak aku publish, jaim boleh lah ya. Jadi, silahkan kalau mau baca-baca tulisanku sebelum 1 April 2016 njenengan bisa buka di Souvenirs atau klik tombol di bawah ini.

Tujuh Tahun Pendekar Tidar

11 April 2016
Tepat hampir tujuh tahun yang lalu aku berkesempatan turut serta menghadiri Kopdar Akbar Pendekar Tidar. Beberapa hari sebelum itu ada uneg-uneg Mas Nanang yang pernah menulis di blog-nya mengenai agenda Kopdar Akbar Pendekar Tidar. Aku masih ingat betul saat itu tulisannya ada di blog Mas Nanang sangnanang.dagdigdug.com. Sekarang dagdigdug.com besutan Paman Tyo tersebut sudah tidak aktif. Aku mendapati tulisan itu ketika aku mencoba mencari-cari komunitas-komunitas blog. Saat itu yang kutemukan jelas ada di papan atas pencarian google adalah Komunitas Blogger BHI (Jakarta), Komunitas Cahandong (Jogjakarta), Komunitas Bengawan (Solo Raya), Komunitas Angkringan (Jogjakarta), Komunitas Loenpia (Semarang) dan Komunitas TPC (Surabaya). Setelah menelusuri lebih banyak halaman, aku menemukan secerah harapan bahwa ternyata ada komunitas blogger di daerah asalku, Magelang. Kembali lagi mengenai tulisan Mas Nanang di dagdigdug.com, sebenarnya sebelum kemunculan tulisan itu ternyata pernah ada pertemuan rahasia para blogger Magelang di Ndalem Peniten diantaranya Mas Nanang, Kang Ciwir, dan Mas Ikhsan. Sebelumnya lagi, sudah ada grup milis Pendekartidar [suara tidar] yang digagas oleh Kang Ciwir bersama Pak Eko Suciadi, Mas Nanang, Mas Ikhsan, dan Mas Hanafi sekira awal tahun 2009. Jadi, ternyata sebelum kemunculan tulisan Mas Nanang mengenai Kopdar Akbar Pendekar Tidar itu sudah ada kasak-kusuk tersembunyi mengenai agenda besar para sesepuh untuk mendirikan sebuah padepokan di Magelang. Pada 11 April 2009 itulah muara dari pagelaran Kopdar Akbar Pendekar Tidar, yang kemudian tanggal itu pula yang disepakati sebagai hari jadi Komunitas Pendekar Tidar, tanpa mengesampingkan proses panjang yang telah terjadi sebelum tanggal tersebut. Aku yang saat itu masih benar-benar baru di ranah komunitas perbloggeran (dan komunitas online lainnya) awalnya hanya delag-deleg plonga-plongo di awal pertemuan. Untunglah beberapa diantara kami yang hadir masih ada beberapa yang sekira seumuran. Aku datang barengan dengan Eko Ardian, sesama blogger Magelang yang saat itu kebetulan sama-sama masih ngangsu di Jogjakarta sekaligus teman sekolah sejak SMA. Adalah Rojiun “Ngampon”, Mas Nanang “Ndoro Seten”, Mbak Emi “Cemani”, Deden “Dobelden”, Kang Ciwir “Kaum Biasa”, Aku, Singgih “Permadi”, Eko “Tampir”, Muhlisin “Lisin”, Mas Hanafi, Mas Yudo “Blabak”, Mbak Indah, Mbak Yunita, Mas Sirhom, Mas Nurokhim, dan Mas Feri yang menjadi saksi sekaligus blogger yang kerso hadir di Alun-Alun Magelang. Suasana begitu akrab, hangat, dan cair, terlebih sore itu cuaca cukup cerah, sekedar menghaluskan kata panas. Ternyata, Mas Nanang dan Kang Ciwir meski sudah tak se-belia kami-kami yang lain pun juga nggak angker-angker amat. Pada kopdar-kopdar Pendekar Tidar berikutnya setelah Kopdar Akbar Pendekar Tidar itu bermunculanlah blogger-blogger dari tlatah Magelang dan sekitarnya. Beberapa yang saya kenal diantaranya ada Pak Eko Suciadi, Mas Ikhsan, Si Ponang, Kang Sahrudin “Magelang Images”, Mas Aji Wicaksono, Mas Bondan “Vampir Magelang”, Mas Faris Ashim, Mas Aris “Oglek”, Mas Rahardian, Anggun “Goenrock”, Mbak Pramawati, Made Kukuh, Faisal Kafur, Agung “Fotografi”, Gus Ikhwan, Mas Yudha, Mas Arief, Mas Aviv “Mbelan”, Mas Nikitomi, Mbak Maey, Mbak Yuni “Bidan Desa”, Pak Gunawan “Tlatah Bocah”, Mas Yohan, Agus Mulyadi “Gus Mul”, Mas Ivan “Ngaos”, Mbak Rizki Amalia, Kokoh Ahmad, Mas Andri, Mas Saypur. Nah, genap 7 tahun berlalu roda terus berputar dan orang datang-pergi silih berganti. Pasang surut perbloggingan di Magelang benar saja

Whatsapp Encryption di Windows 10 Mobile

7 April 2016
Awal April ini WhatsApp baru saja menerapkan fitur keamanan end-to-end encryption pada aplikasi pengguna. Para pengguna Windows 10 Mobile maupun Windows Phone 8.1 kini sudah bisa mendapatkan update aplikasi WhatsApp yang support dengan fitur tersebut. Fitur ini hadir pada versi WhatsApp 2.16.10 setelah kemunculan fitur sharing document dalam update fitur aplikasi WhatsApp beberapa bulan sebelumnya. Apa sih yang bakalan dirasakan pengguna? Untuk pengguna biasa, TIDAK ADA PERUBAHAN. Sederhana saja, pengguna biasa tidak merasakan perubahan apapun dalam kemudahan berkirim pesan. Fitur ini ibaratnya bekerja di belakang panggung karena cara interaksi pengguna dengan antarmuka aplikasi masih sama, tidak ada perubahan. Fitur ini memungkinkan pengguna mengirim pesan terenkripsi kepada pengguna lain. Sederhananya pesan teks, suara, gambar, video, atau dokumen yang kita kirim melalui whatsap akan dienkripsi di ponsel kita sebelum dikirim ke server WhatsApp untuk diteruskan kepada penerima. Di sisi penerima, pesan terenkripsi tersebut kemudian di-decrypt kemudian dimunculkan di layar penerima sudah dalam bentuk pesan asli sebagaimana sebelum dienkripsi. Apapun yang sudah keluar dari aplikasi WhatsApp di ponsel pengguna sudah dalam bentuk terenkripsi, bahkan mulai sejak ditransmisikan ke jaringan. Begitu pun di sisi penerima, sebelum masuk ke aplikasi WhatsApp penerima maka semua masih terenkripsi. Pernah baca perseteruan Apple dengan FBI soal buka kunci iPhone kan ya? Mengapa demikian? Karena data-data yang ditransmisikan ke server WhatsApp sudah dalam bentuk terenkripsi. Apapun data yang ada di server di bawah penguasaan WhatsApp merupakan data terenkripsi yang untuk membukanya diperlukan aplikasi WhatsApp di sisi penerima pesan dan pengirim pesan. Jadi seandainya WhatsApp diminta memberikan data percakapan yang ditransmisikan oleh penggunanya, mungkin saja yang diberikan adalah data percakapan yang tidak bisa dibaca sebagaimana percakapan yang ada dalam ponsel pengirim dan penerima. Misalpun aku kirim pesan WhatsApp “I love you” maka yang ditransmisikan ke jaringan dan server WhatsApp “2154(*%^(*tek1gqfR&*68qw5GYRDy9w869”, “#!rqawgr25t5&^$G785EFQWYR7”, atau bisa juga “86*RS&^4iq2t98Tit*&58WTQ87W5Tit*&T”. Nah, yang ada di server WhatsApp ya pesan yang tak terbaca itu dan baru bisa dibaca setelah ada di aplikasi WhatsApp penerimanya. Jadi kalaupun WhatsApp beneran diminta penegak hukum menyerahkan percakapan sehubungan dengan tindakan pelanggaran WhatsApp dengan santai bisa menyerahkan data terenkripsi pada server yang ada dalam penguasaannya, yaitu pesan berupa “2154(*%^(*tek1gqfR&*68qw5GYRDy9w869”, “#!rqawgr25t5&^$G785EFQWYR7”, atau bisa juga “86*RS&^4iq2t98Tit*&58WTQ87W5Tit*&T” tadi itu. Nah, nggak bisa baca langsung kan? Karena pesan tadi kalau tidak dibuka di ponsel penerima pesan mungkin saja terbacanya “Aku cinta kamu”, “Ti amo” atau malah “Aku tresno sliramu” sementara kalau dibuka di ponsel penerima yang benar tetap terbaca “I love you”. Nah loh.
Load more