Etika di WhatsApp Group

Barangkali hampir semua pengguna gawai canggih memiliki akun WhatsApp. Untuk menjalin komunikasi, Itu jelas. Pernahkah anda merasa terganggu karena notifikasi yang tang-ting-tung hampir setiap saat dari group WhatsApp yang anda buat atau anda ikuti? Berapa sih jumlah group yang anda ikuti di WhatsApp? Nah, bagaimana supaya merasa tidak terganggu dan tidak mengganggu sesame “penghuni” group?

Merasa terganggu pasti pernah lah ya. Aku juga termasuk orang yang kadang dalam saat-saat tertentu merasa terganggu karena saking rame-nya group WhatsApp. Yah, meski sebenernya aku hanya masuk di 12 group WhatsApp. Dari 12 group itu, dua diantaranya aku menjadi admin group dan 10 group lainnya diluar penguasaanku.

Perlakuan paling gampang dan hampir tidak membawa efek kurang baik ketika merasa terganggu dengan ramenya group WhatsApp adalah dengan MUTE. Ya, matikan notifikasi untuk group-group tertentu. Apabila masih kurang nyaman, tak ada salahnya keluar dari group. Sungkan? Ya tentu perasaan itu akan ada. Tapi keluarlah baik-baik, jangan meninggalkan jejak buruk di dalam group. Jadilah anggota group yang baik. Aku memiliki beberapa “aturan” untuk diriku sendiri ketika ada di dalam sebuah group.

Kenali seisi anggota group

Perlahan, kenali satu persatu anggota group sampai pada tingkatan karakternya. Jangan sungkan untuk menjadi anggota group pasif (silent reader) terlebih dahulu. Tak semua orang bisa diajak bercanda sampai level tertentu, terlebih kadang ada perbedaan umur yang signifikan antar anggotanya menyebabkan level guyonan juga berbeda. Mungkin bagi kebanyakan anggota group guyonan pada level tertentu adalah biasa, tapi bisa jadi ada sedikit anggota group yang menganggap guyonan itu sudah kelewatan dan melanggar marwah (pakai bahasa setil-nya anggota dewan).

Hargai privasi orang lain

Memposting foto orang lain yang memalukan di group adalah tindakan tidak terpuji. Jadi hindari memposting gambar atau capture status orang lain yang dirasa memalukan atau mengganggu privasi di group, terlebih orang tersebut ada di dalam group yang sama. Setiap individu di dalam group akan terusik ketika dilanggar privasinya. Paling tidak, jangan sampai benar-benar terekspos identitas yang ada di dalam gambar kalau memang hanya untuk sekedar joke. Gampangnya aplikasi WhatsApp yang bisa copy-paste atau forward membuat persebaran konten menjadi tak terkendali. Kita tak pernah tahu kemana saja konten yang kita post di WhatsApp tersebar.

Hargai waktu berkualitas orang lain

Maksudku tentu saja ada momen-momen tertentu yang orang lain mengharapkan ketenangan, sebut saja waktu beristirahat malam. Perkirakan saja zona waktu dari kebanyakan anggota group. Buat batasan kira-kira pukul berapa kebanyakan orang istirahat tidur malam. Aku mengusahakan untuk tidak posting di group antara pukul 22.00 sampai dengan pukul 08.00. Beberapa group yang kuikuti berisi orang-orang lintas zona waktu. Ada yang ketika ditempatku sudah menjelang siang, di tempat lain masih malam dinihari. Ambil saja mayoritas orang yang ada di group ada di zonasi waktu yang mana.

Posting sesuai tema

Beberapa group WhatsApp dibuat untuk tujuan tertentu atau tema tertentu. Misal group teman-teman SMA, teman-teman Kuliah, group Komunitas Blogger, group untuk persiapan acara tertentu, dan masih banyak lagi. Usahakan apa yang dibicarakan sesuai dengan tema atau tujuan tersebut. Kalaupun ada joke atau candaan, jangan sampai mendominasi konten sehingga mengurangi marwah group (halah… maneh). Jangan juga posting promosi produk kosmetik dan pembesar nganu di group yang bukan peruntukannya (#mdrcct).

Jangan sungkan untuk keluar dari group

Apabila memang sudah merasa terganggu, setiap anggota grup boleh saja keluar dari group. Keluarlah baik-baik, bisa jadi keluarnya njenengan dari group menjadi bahan introspeksi bagi seluruh anggota group mengenai “kenyamanan” di dalam group. Keluar dari group bukan berarti tidak menghargai orang yang telah mengundang atau seisi group.

Sementara ketika aku menjadi admin group, beberapa aturan yang aku pakai antara lain dalam hal mengundang seseorang untuk menjadi anggota group.

Usahakan mengundang secara personal terlebih dahulu

Ya benar, japri dulu baru kemudian benar-benar add to group. Sebenarnya aturan ini baru saja aku mulai. Kepikiran demikian karena kadang ketika aku masuk di grup tertentu aku tidak begitu mengenal satu persatu anggota grup sehingga harus kepo cek satu persatu foto profil, nomor ponsel, dan nama (opo maneh yen ayu banget). Nah, ternyata tak semua orang nyaman dikepoin dengan cara-cara demikian. Jadi sebelum memasukkan seseorang ke dalam group, tak ada salahnya berkomunikasi secara personal (japri) terlebih dahulu. Utarakan dan tanyakan kesediaannya untuk dimasukkan ke dalam group.

Tutup group yang sudah selesai manfaatnya

Ada beberapa group yang dibuat untuk tujuan penyelenggaraan atau keperluan tertentu. Setelah selesai, kadang group berlanjut menjadi ajang silaturahmi sesama anggotanya. Namun, ada juga group yang setelah selesai kemudian tidak aktif sampai berbulan-bulan. Group yang sudah tidak aktif ini yang aku sebut sebagai selesai manfaat. Sebagai admin, utarakan saja rencana penutupan group. Sebelum ditutup, pastikan tak ada lagi anggota group yang tersisa di dalamnya. Apabila group masih aktif tetapi isi percakapan atau tujuan group berbeda, jangan sungkan untuk mengubah nama group.

Terakhir, secara umum (tak hanya di dalam percakapan WhatsApp) selalu junjung tinggi norma-norma yang berlaku di masyarakat. Misal tidak posting yang menyentuh isu-isu negatif SARA, tidak menyinggung orang lain, tidak mempermalukan orang lain maupun diri sendiri, dan tidak mencemarkan nama baik.

Dua Hari di Bojonegoro

Jumat 15 April 2016, aku berkesempatan untuk pertamakalinya ke Bojonegoro dengan naik kereta api (pertama kali juga naik kereta jalur pantura). Tujuanku kali ini cukup sederhana, berkumpul dengan teman-teman Kelas Inspirasi Bojonegoro dalam rangka persiapan KI Bojonegoro yang ke-empat. Sengaja aku memilih Bojonegoro untuk turut berpartisipasi sebagai relawan pengajar di kelas inspirasi. Kebetulan juga, ini adalah kali pertama aku ikut Kelas Inspirasi Bojonegoro.

Aku memulai perjalanan dari Stasiun Pasar Senen pada hari Jumat tepat pukul 12.00 siang hari. Sedianya aku akan memilih perjalanan yang agak sore tetapi kupikir kasihan nanti teman di Bojonegoro kalau jemput tengah malam. Jadilah aku naik kereta api Jayabaya berangkat dari Stasiun Pasar Senen dan turun di Stasiun Bojonegoro sekira pukul 21.45 waktu setempat. Sampai di Bojonegoro aku langsung menghubungi Mas Rivaldy yang akan menjemputku di stasiun. Beberapa hari sebelumnya aku telah menghubungi Nova Wijaya untuk keperluan penjemputan sekaligus menginap selagi aku di Bojonegoro.

Selang beberapa waktu, aku sudah sampai di Rumah TIK Bojonegoro tempatku menginap kali ini. Sebagai informasi, Rumah TIK ini adalah pusat kegiatan dan sekretariat Relawan TIK Bojonegoro. Kebanyakan aktivis di tempat ini masih mahasiswa, beberapa ada pengusaha, dan lainnya pekerja. Karena sudah malam, kupikir kondisi selarut ini sudah cukup sepi tetapi ternyata masih ramai oleh aktifitas pemuda harapan bangsa asli Bojonegoro. Setelah berkenalan, obrolan diantara kami mulai mengalir yang mulai dari sekedar obrolan mengenai kabar masing-masing, menjalar ke aktifitas RTIK di kota masing-masing, berlanjut soal Kelas Inspirasi itu sendiri, sampai perihal aktifitas blogging. Kebetulan beberapa tahun silam komunitas blogger Bojonegoro seringkali bersinggungan (dalam arti positif) dengan komunitas blogger Magelang.

Menyoal blogging pun kisah pertemuan yang kami ceritakan mulai dari pertemuan konco-konco blogger di Wonosobo tahun 2009 sampai beberapa yang terakhir yaitu pertemuan di Bandung dalam rangka Festival RTIK. Kebetulan, kebanyakan aktivis RTIK di Bojonegoro juga dari teman-teman blogger begitupun juga teman-teman aktivis RTIK Magelang yang kebanyakan “lungsuran” blogger.

Berbicara mengenai inti dari kedatanganku ke Bojonegoro, tujuannya adalah mengikuti pertemuan pra-pelaksanaan Kelas Inspirasi Bojonegoro yang ke-empat.

Bagaimana bisa aku “kesasar” ke Bojonegoro sementara ada banyak juga Kelas Inspirasi lain semisal di Jakarta, Sukabumi, Lamongan, Karawang, dll? Pertanyaan itu juga yang sempat ditanyakan teman-teman di Bojonegoro.

Jawaban jujur, sakjane cuma pengen ketemu Mbak Nova Wijaya yang sempat hits dan bahkan sempat jadi trending topic berhari-hari di kalangan teman-teman RTIK Magelang beberapa waktu yang lalu. Terlebih lagi pasca beredar foto bareng artis oleh GusMul itu.

Jawaban slengekan, ya tentu saja sangat normatif. Mau memperkenalkan kira-kira kegiatan dan profesi apa saja yang dilakukan di industri hulu migas, mengingat Bojonegoro punya potensi yang tak sedikit di sektor ini. Paling tidak, aku berharap kedepan semakin banyak orang asli Bojonegoro yang turut berpartisipasi aktif (dan langsung) mengelola sumberdaya alam yang dimilikinya. Bukan tak mungkin kan suatu saat semua kegiatan sektor migas di Bojonegoro benar-benar dikuasai warga asli Bojonegoro?

Kembali mengenai kisah kedatanganku ke Bojonegoro.

Hari berikutnya, Sabtu 16 April 2016 aku berkumpul yang benar-benar berkumpul di Pendopo Malowopati dengan hampir semua aktivis Kelas Inspirasi dari mulai relawan fasilitator, dokumentator, dan pengajar. Ah ya, ini pertamakalinya aku ikut Kelas Inspirasi Bojonegoro. Hampir semua yang kutemui kali ini benar-benar wajah baru, Mbak Nova Wijaya pengecualian lho ya. Sebut saja briefing, banyak hal dibicarakan terkait persiapan Kelas Inspirasi. Hal-hal yang mengenai persiapan dan lain lain sepertinya tak perlu dibahas disini.

Brifing Relawan KI Bojonegoro #4
Brifing Relawan KI Bojonegoro #4 (foto oleh Mahrus)

Selepas kegiatan selesai, sekira pukul 13.00 aku segera meluncur ke tempat makan pecel (aku lupa namanya) kemudian dilanjutkan ke stasiun untuk membeli tiket kembali ke Jakarta. Setelah mendapatkan tiket kereta Kertajaya, aku kembali ke Rumah TIK. Sorenya aku sempat ikut makan bareng di tempat makan mie super pedes -katanya- (lupa lagi namanya). Sekembalinya ke Rumah TIK Bojonegoro, aku beristirahat sejenak sambil mendengarkan cerita-cerita ala remaja masa kini. Malamnya sekira pukul 22.00 aku berangkat menuju Stasiun Bojonegoro untuk selanjutnya kembali ke Jakarta dengan Kereta Kertajaya, kereta milik PT KAI bukan keretaku.

Waktu Tak Terulang

Kali ini adalah pertama kali aku mendaftarkan diri menjadi relawan pengajar Kelas Inspirasi Bojonegoro. Berbagai kejadian yang awalnya kupikir adalah pertama kali bagiku. Tapi kemudian keistimewaan itu mulai kutepis satu per satu ketika aku mulai menemukan kebaruan-kebaruan yang sama-sama pertama kali-nya. Jadi tidak hanya kejadian itu yang ternyata pertama kali bagiku.

Grup komunitas pengajar yang beberapa minggu lalu dibentuk, kebanyakan berisi relawan-relawan pengajar yang juga pertama kali ikut berpartisipasi dalam Kelas Inspirasi. Memang ada beberapa yang sudah pengalaman atau bahkan sangat berpengalaman sebagai relawan pengajar. Namun, intinya hampir 70% dari relawan pengajar mengaku belum pernah melakukannya di masa lalu, tentu saja aku juga.

Seiring waktu dan semakin dekat dengan hari pelaksanaan, aku mencoba memutar caraku memandang kebaruan. Sampai kutemukan kesimpulan bahwa apapun kejadian adalah pertama, jadi tak perlu berkecil hati bertemu dengan orang yang sudah benar-benar berpengalaman.

Waktu tak akan kembali. Menjadikan apapun adalah pertama kalinya.

Nah loh, bagaimana dengan rutinitas?
Waktu tak pernah terulang. Namun, kita perlu belajar dari orang yang lebih berpengalaman meski kenyataan yang akan terjadi tetap kejadian pertama bagi siapapun.

Rutinitas memang awalnya kupikir kejadian sama yang terulang-ulang. Sejak mulai aku bangun pagi selalu saja berbeda, ketika aku bangun kemarin keadaan orang lain dan posisi benda-benda lain relatif selalu berbeda. Jadi bangun pagi hari ini dan bangun pagi kemarin adalah dua kejadian berbeda, tak tepat kusebut aku bangun pagi hari ini adalah kesekian kali aku mengalaminya. Itulah kenapa kusebut rutinitas selalu menjadi kejadian baru, kejadian pertama kalinya.

Kucoba dengan cara pandang yang sama mengenai “pertama kali” di Kelas Inspirasi. Siapapun belum pernah mengalaminya, karena semua kejadian yang akan datang tak mungkin memiliki parameter dan posisi relatif yang sama. Sebut saja relawan yang mengikuti kelas-kelas sebelumnya, meski hampir sama tetapi kejadian yang akan datang tetap menjadi hal baru. Tempat yang baru, panitia yang komposisinya baru, interaksi yang baru, dan kebaruan-kebaruan lain yang kupikir sudah pasti ketika disatukan akan menjadi kejadian berbeda dari yang sebelumnya dialami. Pengalaman tentu harus diakui beliau-beliau lebih pengalaman. Tapi beliau-beliau juga tidak pernah mengalami kejadian yang akan terjadi selanjutnya.

Souvenirs

Sesuai janjiku dalam tulisan Halo Dunia. Aku telah selesai mengembalikan semua tulisan-tulisan blogku. Tentu saja benar, aku mengembalikan hampir seluruh tulisan dari sejak awal aku mulai ngeblog. Baca saja tulisanku mengenai Influencers yang di bagian akhir sedikit kujelaskan bagaimana aku sering sekali pindah rumah. Mohon maklum ya, cuma ngontrak sih.

Kenapa untuk arsip lawas kuletakkan di bagian tersendiri dalam paket Souvenirs?

Sebenernya tadinya mau kudiamkan dalam judul aslinya, Write – Is typing. Tapi kupikir karena ini merepresentasikan tulisan-tulisan lama (yang sekedar untuk ingatan atau mengingat saja), jadilah aku ubah judulnya menjadi Souvenirs. Aku nggak ngerti secara tata bahasa sudah bener atau belum perihal artinya sesuai dengan yang kuharapkan, tapi nama ini kusadur dari judul blog salah satu blog favoritku, Katja (baca Katiya) “Black Rabbit in The Dark”. Sayangnya blog beliau sudah tidak pernah update sejak tahun 2014 dan lebih banyak berkarya di YouTube melalui kanal Snow White Siren. Namun, kupikir pilihan beliau sudah tepat karena yang menyebabkan blog-nya menjadi favorit adalah posting-posting musiknya yang enak didengerin. Piano sheet-nya Mbak Katja bisa dicoba dimainkan sendiri lho kalau sampeyan bisa.

Eh hai Mbak Katja, nih udah aku endorse. Bayar! 😀

Lanjut lagi mengenai apa saja yang aku kembalikan, tidak semua tulisan kukembalikan. Beberapa tulisan, terutama tulisan sebelum tahun 2009 kusimpan sebagai arsip pribadi, you know lah ya gimana tulisan anak remaja pada masa itu lumayan harshing-harshing gimana gitu. Serius, setelah kubaca ulang mulai tulisan pertamaku aku senyam-senyum sendiri betapa aku ini apalah-apalah pada masa itu. Itulah kenapa tidak aku publish, jaim boleh lah ya.

Jadi, silahkan kalau mau baca-baca tulisanku sebelum 1 April 2016 njenengan bisa buka di Souvenirs atau klik alamat di bawah ini.

http://lawas.nahdhi.com/

UberMOTOR di Jakarta

Pasar jasa transportasi di Jakarta memang sangat menarik dan cukup menggiurkan. Terlebih ketika bisnis di bidang ini disandingkan dengan teknologi digital. Sebut saja Go-Jek, Grab, dan Uber yang telah menuai kesuksesan branding di tengah kontroversi soal legalitas kendaraan yang digunakan.

Kami juga memberikan kemudahan pembayaran dengan tunai, kartu kredit atau debit, yang membuat pengalaman bersama Uber ini menjangkau masyarakat lebih luas – baik calon pengguna dan calon pengemudi – yang lebih memilih membayar tunai – hanya dengan menekan satu tombol untuk menuju ke kantor, hingga memiliki uang tunai secara fisik untuk mengisi bensin tiap hari.
Uber Indonesia

Di Jakarta, siapa tak kenal Go-Jek. Hampir setiap beberapa ratus meter di jalan protocol kita selalu menemukan pemotor berjaket atau berhelm hijau itu. Tak jauh beda dengan Grab dengan GrabBike-nya yang juga identic dengan warna hijau. Uber tak mau kalah, alih-alih fokus membidangi pelayanan dengan roda empat kini Uber menghadirkan layanan baru UberMOTOR. Ya, ride sharing motor ala UBER.

Aku punya harapan positif ketika membaca rilis di blog Uber Indonesia saat peluncuran layanan UberMOTOR. Pasalnya Uber dalam tulisan nampaknya begitu memperhatikan bagaimana hubungan antara pengguna dan pengemudi bukan sekedar soal uang bayaran.

Secara prinsip tak ada bedanya mengenai cara pemakaian antara Go-Jek, GrabBike, maupun UberMOTOR. Calon pengguna pesan melalui ponsel, driver datang menjemput, diantarkan sampai tujuan, bayar, dan beri penilaian ke driver. Maka kemudian hal yang akan membedakan ketiganya adalah additional services alias layanan tambahan dan coverage alias jangkauan. Persaingan yang seharusnya kedepan terjadi adalah persaingan tarif, layanan tambahan, kualitas layanan, dan coverage.

Aku pikir UberMOTOR sebagai pemain baru di dunia roda dua Jakarta sangat wajar agak mengalami kesulitan dalam ambil bagian. Terutama soal merebut hati pelanggan dan rekrutmen driver mengingat dua pemain lainnya sangat mendominasi dalam hal jumlah driver dan brand. Aku pun sampai sekarang masih menggunakan persepsi “Motor ya Go-Jek, Mobil ya Uber”. Sementara Grab posisi ada di antara keduanya mengingat Grab menyediakan GrabTaxi, GrabCar, dan GrabBike. Kupikir tak sedikit yang punya pemikiran serupa.

Membicarakan tarif, layanan online roda dua ini mulai menemukan pakem-nya, sudah ada titik temu keseimbangan harga antar penyedia layanan online ini. Paling pun selisih sekitar ratusan rupiah per kilometer, selebihnya berkutat pada skema tarif promo.

Kehebatan orang di Jakarta adalah latah. Kata-kata baru, promo, diskon, voucher, dan free sangat mendominasi bagaimana pengguna akan beralih menggunakan layanan lain ketika di tempat lain ada kata-kata tersebut. Maka langkah UberMOTOR hampir tepat dengan free riding untuk launching pertamanya. Sayangnya, dalam masa promo free riding ini ternyata coverage layanan masih sangat kurang. Coverage yang kumaksud tentu saja soal ketersediaan jumlah driver dan sebarannya.

Ah, ini kan baru sehari doang dirilisnya broooo….

Ya sudah, ditunggu saja. Toh harapannya dengan bertambahnya “pemain” akan menjadi semakin kompetitif, muncul inovasi-inovasi baru, pengguna dan driver semakin diuntungkan dengan kemudahan yang ditawarkan.

Btw, menurutku saat ini Go-Jek ada di posisi teratas soal inovasi additional services-nya. Yang lain mah ngikut dulu dah.

Tujuh Tahun Pendekar Tidar

Logo Pendekar TidarTepat hampir tujuh tahun yang lalu aku berkesempatan turut serta menghadiri Kopdar Akbar Pendekar Tidar. Beberapa hari sebelum itu ada uneg-uneg Mas Nanang yang pernah menulis di blog-nya mengenai agenda Kopdar Akbar Pendekar Tidar. Aku masih ingat betul saat itu tulisannya ada di blog Mas Nanang sangnanang.dagdigdug.com. Sekarang dagdigdug.com besutan Paman Tyo tersebut sudah tidak aktif.

Aku mendapati tulisan itu ketika aku mencoba mencari-cari komunitas-komunitas blog. Saat itu yang kutemukan jelas ada di papan atas pencarian google adalah Komunitas Blogger BHI (Jakarta), Komunitas Cahandong (Jogjakarta), Komunitas Bengawan (Solo Raya), Komunitas Angkringan (Jogjakarta), Komunitas Loenpia (Semarang) dan Komunitas TPC (Surabaya). Setelah menelusuri lebih banyak halaman, aku menemukan secerah harapan bahwa ternyata ada komunitas blogger di daerah asalku, Magelang.

Kembali lagi mengenai tulisan Mas Nanang di dagdigdug.com, sebenarnya sebelum kemunculan tulisan itu ternyata pernah ada pertemuan rahasia para blogger Magelang di Ndalem Peniten diantaranya Mas Nanang, Kang Ciwir, dan Mas Ikhsan. Sebelumnya lagi, sudah ada grup milis Pendekartidar [suara tidar] yang digagas oleh Kang Ciwir bersama Pak Eko Suciadi, Mas Nanang, Mas Ikhsan, dan Mas Hanafi sekira awal tahun 2009. Jadi, ternyata sebelum kemunculan tulisan Mas Nanang mengenai Kopdar Akbar Pendekar Tidar itu sudah ada kasak-kusuk tersembunyi mengenai agenda besar para sesepuh untuk mendirikan sebuah padepokan di Magelang.

Pada 11 April 2009 itulah muara dari pagelaran Kopdar Akbar Pendekar Tidar, yang kemudian tanggal itu pula yang disepakati sebagai hari jadi Komunitas Pendekar Tidar, tanpa mengesampingkan proses panjang yang telah terjadi sebelum tanggal tersebut.

Aku yang saat itu masih benar-benar baru di ranah komunitas perbloggeran (dan komunitas online lainnya) awalnya hanya delag-deleg plonga-plongo di awal pertemuan. Untunglah beberapa diantara kami yang hadir masih ada beberapa yang sekira seumuran. Aku datang barengan dengan Eko Ardian, sesama blogger Magelang yang saat itu kebetulan sama-sama masih ngangsu di Jogjakarta sekaligus teman sekolah sejak SMA. Adalah Rojiun “Ngampon”, Mas Nanang “Ndoro Seten”, Mbak Emi “Cemani”, Deden “Dobelden”, Kang Ciwir “Kaum Biasa”, Aku, Singgih “Permadi”, Eko “Tampir”, Muhlisin “Lisin”, Mas Hanafi, Mas Yudo “Blabak”, Mbak Indah, Mbak Yunita, Mas Sirhom, Mas Nurokhim, dan Mas Feri yang menjadi saksi sekaligus blogger yang kerso hadir di Alun-Alun Magelang. Suasana begitu akrab, hangat, dan cair, terlebih sore itu cuaca cukup cerah, sekedar menghaluskan kata panas. Ternyata, Mas Nanang dan Kang Ciwir meski sudah tak se-belia kami-kami yang lain pun juga nggak angker-angker amat.

Pada kopdar-kopdar Pendekar Tidar berikutnya setelah Kopdar Akbar Pendekar Tidar itu bermunculanlah blogger-blogger dari tlatah Magelang dan sekitarnya. Beberapa yang saya kenal diantaranya ada Pak Eko Suciadi, Mas Ikhsan, Si Ponang, Kang Sahrudin “Magelang Images”, Mas Aji Wicaksono, Mas Bondan “Vampir Magelang”, Mas Faris Ashim, Mas Aris “Oglek”, Mas Rahardian, Anggun “Goenrock”, Mbak Pramawati, Made Kukuh, Faisal Kafur, Agung “Fotografi”, Gus Ikhwan, Mas Yudha, Mas Arief, Mas Aviv “Mbelan”, Mas Nikitomi, Mbak Maey, Mbak Yuni “Bidan Desa”, Pak Gunawan “Tlatah Bocah”, Mas Yohan, Agus Mulyadi “Gus Mul”, Mas Ivan “Ngaos”, Mbak Rizki Amalia, Kokoh Ahmad, Mas Andri, Mas Saypur.

Nah, genap 7 tahun berlalu roda terus berputar dan orang datang-pergi silih berganti. Pasang surut perbloggingan di Magelang benar saja mengikuti dinamika pergerakan jaman. Namun, secerah harapan dunia komunitas perbloggingan Indonesia ada tanda-tanda segera bangkit kembali. Begitu pun di Magelang, aktivitas menulis (tentu saja bukan hanya sebatas ngeblog) benar-benar sangat berkembang. Banyak pengkarya-pengkarya dari Magelang meramaikan jagat literasi di Indonesia. Kurasa masih relevan dan tak berlebihan kalau kubilang Pendekar Tidar masih akan terus meramaikan dunia persilatan dalam bentuk peran apapun.

Oh ya, tak lupa. Pendekar Tidar pernah (dan mungkin masih) punya dua orang yang dari namanya sangat bisa disejajarkan dengan priyayi semacam Gus Dur, Gus Mus, atau Gus Yusuf. Mereka adalah Gus Ikhwan dan tentu saja Gus Mul yang sudah kondang saloka. Sungguh Pendekar Tidar sangat patut bersyukur dan pasti sangat “religius” dengan ada dua Gus sekaligus.

Whatsapp Encryption di Windows 10 Mobile

Awal April ini WhatsApp baru saja menerapkan fitur keamanan end-to-end encryption pada aplikasi pengguna. Para pengguna Windows 10 Mobile maupun Windows Phone 8.1 kini sudah bisa mendapatkan update aplikasi WhatsApp yang support dengan fitur tersebut. Fitur ini hadir pada versi WhatsApp 2.16.10 setelah kemunculan fitur sharing document dalam update fitur aplikasi WhatsApp beberapa bulan sebelumnya.

Apa sih yang bakalan dirasakan pengguna?

Untuk pengguna biasa, TIDAK ADA PERUBAHAN.

Sederhana saja, pengguna biasa tidak merasakan perubahan apapun dalam kemudahan berkirim pesan. Fitur ini ibaratnya bekerja di belakang panggung karena cara interaksi pengguna dengan antarmuka aplikasi masih sama, tidak ada perubahan.

Fitur ini memungkinkan pengguna mengirim pesan terenkripsi kepada pengguna lain. Sederhananya pesan teks, suara, gambar, video, atau dokumen yang kita kirim melalui whatsap akan dienkripsi di ponsel kita sebelum dikirim ke server WhatsApp untuk diteruskan kepada penerima. Di sisi penerima, pesan terenkripsi tersebut kemudian di-decrypt kemudian dimunculkan di layar penerima sudah dalam bentuk pesan asli sebagaimana sebelum dienkripsi.

Apapun yang sudah keluar dari aplikasi WhatsApp di ponsel pengguna sudah dalam bentuk terenkripsi, bahkan mulai sejak ditransmisikan ke jaringan. Begitu pun di sisi penerima, sebelum masuk ke aplikasi WhatsApp penerima maka semua masih terenkripsi.

Langkah ini menurutku langkah cerdas yang bisa dilakukan WhatsApp dalam “melepaskan” tanggungjawab WhatsApp untuk membuka rahasia pengguna atas permintaan pihak penegak hukum.

Pernah baca perseteruan Apple dengan FBI soal buka kunci iPhone kan ya?

Mengapa demikian? Karena data-data yang ditransmisikan ke server WhatsApp sudah dalam bentuk terenkripsi. Apapun data yang ada di server di bawah penguasaan WhatsApp merupakan data terenkripsi yang untuk membukanya diperlukan aplikasi WhatsApp di sisi penerima pesan dan pengirim pesan. Jadi seandainya WhatsApp diminta memberikan data percakapan yang ditransmisikan oleh penggunanya, mungkin saja yang diberikan adalah data percakapan yang tidak bisa dibaca sebagaimana percakapan yang ada dalam ponsel pengirim dan penerima.

Misalpun aku kirim pesan WhatsApp “I love you” maka yang ditransmisikan ke jaringan dan server WhatsApp “2154(*%^(*tek1gqfR&*68qw5GYRDy9w869”, “#!rqawgr25t5&^$G785EFQWYR7”, atau bisa juga “86*RS&^4iq2t98Tit*&58WTQ87W5Tit*&T”. Nah, yang ada di server WhatsApp ya pesan yang tak terbaca itu dan baru bisa dibaca setelah ada di aplikasi WhatsApp penerimanya.

Jadi kalaupun WhatsApp beneran diminta penegak hukum menyerahkan percakapan sehubungan dengan tindakan pelanggaran WhatsApp dengan santai bisa menyerahkan data terenkripsi pada server yang ada dalam penguasaannya, yaitu pesan berupa “2154(*%^(*tek1gqfR&*68qw5GYRDy9w869”, “#!rqawgr25t5&^$G785EFQWYR7”, atau bisa juga “86*RS&^4iq2t98Tit*&58WTQ87W5Tit*&T” tadi itu. Nah, nggak bisa baca langsung kan? Karena pesan tadi kalau tidak dibuka di ponsel penerima pesan mungkin saja terbacanya “Aku cinta kamu”, “Ti amo” atau malah “Aku tresno sliramu” sementara kalau dibuka di ponsel penerima yang benar tetap terbaca “I love you”.

Nah loh.

Hemat Baterai Windows 10 Mobile

Sejak pertama kali aku upgrade Lumia 930 saya ke Windows 10 Mobile, aku merasa ada sesuatu yang salah dengan ponselku. Baterai ponselku sangat cepat habis, melebihi saat masih menggunakan Windows Phone 8.1. Sebelumnya dalam satu siklus pengisian, ponselku bisa menyala seharian penuh atau bahkan lebih. Namun, setelah upgrade ke Windows 10 Mobile justru tak bertahan bahkan untuk sehari. Sekali diisi penuh hanya bisa bertahan sekitar 14 jam saja.

Secara teknis tidak ada masalah dari sisi perangkat keras, jadi kesimpulanku ini sepenuhnya karena piranti lunak. Aku mencoba beberapa pengaturan yang menurutku bisa memperlambat proses discharging supaya lebih hemat baterai. Setelah kulakukan pengaturan, sekarang ponselku bisa bertahan lebih lama dengan Windows 10 Mobile. Beberapa hal yang kulakukan diantaranya:

Hemat dari Aplikasi-nya

Windows 10 Mobile termasuk ketat mengenai penanganan aplikasi yang bisa berjalan di background. Windows 10 menyediakan pengaturan khusus yang digunakan untuk menentukan pengguna mengenai apa saja yang diperbolehkan berjalan di background dan tidak, bahkan termasuk yang berjalan di background pada saat mode battery saver diaktifkan. Prinsipnya, semakin sedikit aplikasi yang berjalan di frontend maupun background, semakin hemat baterai. Pengaturan ini ada di Settings, System, Battery Saver, Battery Use. Untuk pengaturan ini, aku hanya memperbolehkan aplikasi WhatsApp dan Skype yang dapat berjalan sepenuhnya di background.

Selanjutnya yang juga sangat membantu dalam hal penghematan baterai yaitu dengan matikan sinkronisasi akun email, kalender, atau kontak otomatis. Atur sinkronisasi menjadi manual, atau ambil saja pengaturan ke periode paling panjang. Pengaturan ada di Settings, Accounts, Your Email & Accounts, kemudian pilih salah satu akun, Manage, Change Mailbox Sync Settings. Atur menjadi manual atau periode yang mencukupi dan dapat ditoleransi mengenai keterlambatan membaca-nya. Misal saya memiliki dua akun email pribadi dan satu email kantor. Untuk email pribadi OK lah tidak ada masalah kalaupun baru baca setengah hari setelahnya, jadi aku set sinkronisasi manual. Sementara untuk email kantor meski sebenarnya butuh cepat, tetapi masih ada toleransi kalau terlambat satu atau dua jam. Toh kalau misal butuh dibalas cepat, biasanya pengirim menghubungi melalui media komunikasi lain semisal whatsapp atau telepon untuk sekedar konfirmasi kalau baru kirim email. Jadi untuk email kantor aku set sinkronisasi tiap dua jam.

Cara lainnya, matikan notifikasi banner dan getaran. Kenapa? Karena ketika ada notifikasi masuk dan notifikasi banner diaktifkan makan seketika notifikasi masuk maka layar akan menyala, tentu saja sering-sering layar nyala akan semakin boros baterai. Nah, getaran (vibrate) karena untuk menimbulkan getaran mekanik diperlukan listrik untuk memutar motor, maka sudah jelas butuh energi juga kan. Nah pengaturannya ada di Settings, System, Notifications & Actions, pilih aplikasi, kemudian set off banner notification dan set off vibrate notification. Kalau aplikasinya nggak penting-penting amat, nggak usah pakai notif-notifan juga lebih bagus.

Hemat dari Layar-nya

Untuk yang ini sepertinya tidak perlu dijelaskan detil. Pada prinsipnya semakin terang atau semakin cerah layar, energi yang diperlukan semakin besar. Nah, artinya supaya lebih hemat energy maka tinggal dikurangi saja brightness dan vividness layar.

Pengaturan brightness ada di Settings, System, Display atur brightness level ke low (paling rendah). Kalau perlu matikan pengaturan kecerahan otomatis (auto adjustment), masih di menu pengaturan yang sama. Selain di menu tersebut, apabila masih kurang rendah brightness-nya masuk ke menu Settings, Extras, Display, Adjust Brightness Profile. Geser ke posisi paling kiri (paling rendah).

Pengaturan vividness ada di Settings, Extras, Display, Adjust Colour Profile. Nah, pada bagian ini yang paling tidak disarankan adalah mengatur pada profil vivid. Profil vivid menggunakan pengaturan tingkat kecerahan layar paling tinggi, semua range warna dimunculkan. Dengan pengaturan vivid memang tampilan menjadi lebih Indah, cantik, dan kontras warna sangat baik. Namun, lagi-lagi pengaturan ini menghabiskan baterai lebih cepat. Jadi, atur saja ke mode standard atau custom.

Tak perlu penampilan paling cantik, yang penting tetap nyaman dipandang dan bisa lebih hemat.

Nah loh, mirip sama milih cewek kan.

Ada juga pengaturan layar yang sepertinya perlu, yaitu Colour Theme. Gunakan colour theme gelap (dark) karena layar LED akan lebih sedikit mengkonsumsi energy ketika menampilkan warna gelap. Pengaturan ada di Settings, Personalisation, Colours.

Hemat di Durasi Pemakaian Hardware/Sensor Aktif

Khusus bagian ini, ada beberapa hardware/sensor yang sebenernya related dengan software (dan layar tentu saja). Pada intinya usahakan sensor tidak aktif dalam waktu lama atau terus menerus, ada sensor suara, sensor sentuh, NFC, Vibration motor.

Aplikasi Hey Cortana yang aktif membuat microphone pada ponsel selalu standby dan prosesor pengolah suara selalu aktif. Untuk mematikan Hey Cortana bisa melalui Settings, Extras, Hey Cortana.

Sensor sentuh pada layar juga tetap standby kalau pengaturan nyala layar dengan dua kali tap layar. Nah, untuk mematikan melalui Settings, Extras, Touch, Gesture matikan Double Tap Screen to Wake Up.

Pada menu pengaturan yang sama juga ada pengaturan untuk getaran saat menyentuh layar. Matikan juga Vibrate Touch di menu yang sama.

Selanjutnya matikan NFC secara default mengingat hampir kupastikan saat ini di Indonesia belum banyak penyedia jasa transaksi keuangan yang memanfaatkan NFC pada ponsel untuk verifikasi pembayaran. Pengaturannya ada di Settings, Devices, NFC.

Kalau tidak benar-benar memerlukan jaringan 4G demi kuota yang lebih murah atau kecepatan lebih bagus atur saja jaringan komunikasi data ke maksimum di 3G. Pengaturannya ada di Settings, Network & Wireless, Mobile & SIM, SIM settings, Mobile Network.

Kembali lagi soal layar, buat supaya layar sleep secepatnya setelah tidak digunakan. Atur screen timeout ke nilai terkecil. Pengaturannya ada di Settings, Personalisation, Lock Screen. Atur saja layar sleep setelah 30 detik.

Nah, banyak kan cara buat berhemat?

Sudah aku buktikan dengan pengaturan sebagaimana yang sudah kujelaskan tadi, ponsel Lumia 930 dengan Windows 10 Mobile yang kupakai mampu bertahan hampir dua hari dalam satu siklus pengisian daya (charging). Bahkan beberapa kali bisa dapet bonus lebih setengah hari. Lumayan kan darisatu kali charging cuma untuk 14 jam jadi satu kali charging untuk 48 jam. Ini keduanya dibandingkan dalam pemakaian normal lho ya. Maksudnya untuk penggunaan biasa telepon, WhatsApp, browsing, sesekali foto-foto, Skype, Instagram, dan buka-buka email.

FYI, aku dalam beberapa bulan terakhir sudah bukan lagi gadget addict.

Lumia 930 Windows 10 and Battery

For the first time I update my Lumia 930 phone I feel something went wrong with my smartphone. My phone rapidly drain much more energy than last time I use Windows Phone 8.1. Before, one time charging period was more than enough to keep my Windows Phone 8.1 device alive for two days. But, after upgrade to Windows 10 Mobile my device not strong enough to keep alive for a day. My Lumia 930 battery only energizing for about 14 hours.

Technically there is nothing problem with my hardware, so I try to tweak settings on Windows 10 Mobile to conserve energy and keep my phone efficient. After tweaking, I extremely get better battery live on Lumia 930 with Windows 10 Mobile. Here what I do:

Disallow apps run in background. For my daily usage, I only allow WhatsApp and Skype to run in background. Set display brightness level to low and turn off auto adjust. This setting will give you better battery live, but I keep my display auto adjust brightness. I have almost of my daily life in outdoor. Turn off NFC by default. I set my NFC off by default, only few payment services and merchant accept NFC payment protocol in Indonesia. Use dark colors for theme. Naturally OLED display consume more energy with light color and more efficient with dark color. Set screen timeout to minimum value. I set my phone to 30 seconds timeout. Set account sync period to manual or to longest period. Except for urgent account, I set account sync period to manual. Only office mail account that I set to one hour.

Turn off notification banners and vibration. After couple times of identification statistically, I found that notification banner highly responsible for battery drain problem. Why? My phone screen immediately turned on again and again (only) to display notification banner. Say that you have more chat apps and intensively send you a notification. Your screen going turned on – off – on – off again and again.

So, this is to do list to conserve your battery live:

  1. Disallow apps run in background (Settings > System > Battery Saver > Battery Use)
  2. Set display brightness level to low (Settings > System > Display)
  3. Turn off auto adjust brightness level (Settings > System > Display)
  4. Turn off NFC (Settings > Devices > NFC)
  5. Use dark colors for theme (Settings > Personalisation > Colours)
  6. Set screen timeout to minimum value (Settings > Personalisation > Lock Screen)
  7. Set account sync to manual (Settings > Accounts > Your Email and Accounts > [select an account] Manage > Change Mailbox Sync Settings)
  8. Turn off notification banners and vibrations (Settings > System > Notifications & Actions > [select an app])

And yes, turn off banners and vibration notifications is my last time I tweak my phone to keep my phone alive. I get my device still alive for two days in one time charging period, even sometime plus half day more.

Here additional tweaks if you want much better battery live for your phone:

  1. Lowering Brightness Profile (Settings > Extras > Display > Adjust Brightness Profile)
  2. Do not use vivid color profile (Settings > Extras > Display > Adjust Color Profile)
  3. Turn off Hey Cortana (Settings > Extras > Hey Cortana)
  4. Turn off double tap screen to wake up (Settings > Extras > Touch > Gestures)
  5. Turn off vibrate touch (Settings > Extras > Touch > Touch)
  6. Set mobile network data to 3G (Settings > Network & Wireless > Mobile & SIM > SIM settings > Mobile Network)

Halo dunia!

Hai! Salam kenal. Untuk pertama kalinya aku mulai blogging (kembali) dari awal setelah hampir satu bulan tidak membuat tulisan baru.

Lho, ini kan baru tulisan pertamamu, Mas?

Ah ya, tentu saja ini tulisan pertamaku setelah hampir semuanya ku format dan ku kemas ulang. Sementara aku tengah mencoba untuk mengembalikan seluruh tulisan-tulisanku yang telah kubuat sejak pertama kali membuat blog awal tahun 2007. Tapi tentu saja tidak semua tulisanku bisa kuselamatkan. Semua tulisan di blog pertamaku hilang seiring dengan ketiadaan multiply beberapa tahun silam. Beberapa tulisanku yang terselamatkan tidak akan kukembalikan, maksudku tetap aku restore tetapi aku atur sebagai tulisan private alias rahasia.

Jadi nantinya ini bukan menjadi tulisan pertama dong kalau ada tulisan dari yang sebelumnya?

Tentu saja ini bukan tulisan pertamaku. Tapi bisa jadi ini tulisan pertamaku di sini. Aku usahakan tulisan-tulisan lama tetap dapat diakses tetapi terpisah dari sini. Mungkin aku kumpulkan dalam satu sub-domain khusus untuk tulisan-tulisanku yang lawasan. Mungkin lawas.nahdhi.com kali ya?