Nandur, Menanam

Saya masih ingat, ungkapan “Nandur Woh Ngangsu Kawruh” menjadi tema utama festival Tlatah Bocah bertahun-tahun silam. Menanam benih memetik pelajaran, kira-kira begitu artinya. Tahun ini, Festival Tlatah Bocah yang tengah digelar di sekitaran lereng Merapi Magelang membawa tema “Holopis Kuntul Baris“. Gotong royong, berbondong-bondong menuju kebajikan. Itu persepsi saya.

Kembali menyoal “nandur”, keseharian kita adalah menanam.

Apa yang kita ungkapkan dan bagaimana perilaku kita adalah benih yang kita tanam. Benih itu tumbuh sebagai pohon persepsi di kepala orang lain. Bisa dipanen pada saat itu juga, bisa juga suatu saat ke depan baru ketemu imbalan/balasannya, bahkan saat tanpa kita harap dan tanpa kita menyadarinya.

Evaluasi, dari situlah sesungguhnya kita memetik pelajaran dari apa yang kita tanam. Apa menghasilkan kebaikan untuk diri sendiri, baik bagi keluarga, baik bagi manusia, kebajikan bagi semesta. Atau sebaliknya, menghasilkan keburukan.

Bila telah lacur menghasilkan keburukan. Menanam benih baik merupakan cara untuk mengubah. Mengganti tanaman yang buruk dengan yang baik. Namun, tanaman bisa ditebang, akarnya tetap tinggal di kepala orang lain.

Berbuat baik tidak selalu dipersepsikan kebaikan di kepala orang lain. Elok dalam berperilaku tidak selalu dipersepsikan kebaikan di kepala orang lain. Beretika dalam pergaulan tidak selalu dipersepsikan kebaikan di kepala orang lain. Jika saja yang baik, indah, elok, pun masih bisa dipersepsikan jelek, apalagi dengan yang tidak baik.

Tanamlah benih yang baik.

Semoga Tuhan membimbing kita semua dalam menanam kebaikan dan keindahan.

Tinggalkan Balasan

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More

%d blogger menyukai ini: