Kepedihan Zainuddin dan Hayati

Jujur saja, kalau diingat-ingat lagi, buku berbahasa Indonesia yang paling bikin saya menyesal setelah tamat membacanya adalah Tenggelamnya Kapal Van der Wijck karya Hamka. Awalnya saya baca karena banyak yang bilang novel ini mahakarya roman klasik paling legendaris. Sebagai orang yang suka kisah cinta mendalam, saya ngiranya bakal dapat cerita romantis tragis yang indah, lengkap dengan balutan budaya Minangkabau.

Tapi makin dibaca, rasa penasaran itu malah berubah jadi sesak di dada. Ternyata Hamka nggak lagi menyuguhkan kisah cinta manis buat hiburan, melainkan tragedi sosial yang kejam banget. Alurnya dipenuhi ketidakadilan adat istiadat, sentimen kedaerahan yang sempit, dan kepatuhan mutlak pada aturan lama yang akhirnya membunuh kebahagiaan seseorang.

Tokoh utamanya, Zainuddin, disiksa batinnya habis-habisan cuma gara-gara ditolak masyarakat sebab dianggap nggak punya asal-usul keluarga yang jelas. Tiap baca bagian waktu dia jatuh miskin sampai stres berat, saya ikut ngerasain tekanannya. Bikin emosi banget sama dunia cerita buatan Hamka yang terkesan kolot, egois, dan nggak punya belas kasihan.

Puncaknya ada di bagian akhir, pas Hayati—perempuan yang dicintai Zainuddin setengah mati—menderita luar biasa terus akhirnya meninggal. Nggak ada happy ending atau kelegaan sama sekali buat pembaca; yang ada cuma rasa hampa, air mata, dan frustrasi mendalam. Saya nutup buku itu dengan napas berat, berasa semua tenaga emosional terkuras habis gara-gara nasib sial para tokohnya.

Sering banget saya mikir, buat apa capek-capek baca cerita yang dari awal sampai akhir isinya cuma kesedihan doang? Rasanya nyesel banget udah ngebiaridin pikiran saya tersiksa sama penderitaan psikologis yang pekat itu. Walaupun buku ini ngebukktiin betapa kerennya kepiawaian bahasa Hamka, tapi di sisi lain buku itu sukses bikin mood saya rusak seharian.

Tapi ya, di situlah letak kekuatan sastra yang sebenarnya. Walaupun sempat nyesel karena bikin stres, ceritanya nancep kuat banget di ingatan dan nggak bakal bisa dilupain. Buku itu ngajarin saya satu hal: sastra Indonesia yang bagus itu kadang nggak diciptakan buat menyenangkan pembaca, tapi buat nampar kesadaran kita biar paham sama pahitnya realitas hidup.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.

Situs ini menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda dalam menelusuri situs ini. Kami akan menganggap Anda setuju dengan ini, tetapi Anda dapat memilih meninggalkan halaman ini jika tidak setuju. Setuju Baca Selengkapnya