Menghindari HOAX di Grup WhatsApp dan BBM

By Muh.Ahsan 9 months ago3 Comments

Hindari Menjadi Agen Penyebar HOAX

 

WhatsApp, BBM, Line, dan Telegram menduduki empat teratas dari aplikasi chatting terpopuler di Indonesia. Barangkali siapapun pengguna smartphone di Indonesia pasti didalamnya ada aplikasi tersebut, sedikitnya satu aplikasi diantara empat tersebut. Empat aplikasi tersebut semuanya menyediakan fitur chatting dalam bentuk grup (group chat) dan mengirim pesan ke banyak orang (broadcast). Seperti halnya media sosial semacam Facebook, group chatting pun juga rentan menjadi medium persebaran informasi HOAX. Selaku pengguna medium informasi, sudah sepatutnya menjadi pengguna yang cerdas dalam menerima informasi.

Barangkali, pernah suatu ketika Anda mendapatkan broadcast atau dalam group chat WA salah satu teman anda memposting tulisan yang pada kemudian hari Anda mendapati bahwa tulisan tersebut adalah kabar bohong, HOAX. Atau barangkali lebih parah lagi Anda dengan serta merta telah turut meneruskan (forward), copy paste kabar tersebut ke grup chat WA lain atau broadcast BBM ke teman anda yang lain. Betapa malunya ketika Anda kedapatan menjadi agen penyebar HOAX, meski tidak disengaja.

Nah, bagaimana sih supaya Kita (Anda dan Saya), lebih cerdas dan tidak dengan mudah terpancing menjadi agen penyebar HOAX?

Kendalikan Nafsu Berbagi

Barangkali pernah Anda mendapatkan suatu informasi yang membuat senang atau sangat setuju dengan konten informasi itu sehingga anda sangat ingin membagikannya kepada orang-orang dekat atau rekan sejawat Anda. Atau, pernah lain  waktu anda mendapati informasi yang membuat anda khawatir terhadap keluarga dan teman-teman Anda sehingga dengan serta merta Anda forward informasi tersebut ke keluarga atau teman dengan maksud supaya mereka lebih berhati-hati. Apabila mendapati informasi yang demikian: TAHAN. Baca kembali dua atau tiga kali, kemudian tarik nafas sejenak dan jauhkan jemari dari HP supaya emosi pada diri Anda yang fluktuatif itu menjadi relatif lebih stabil.

Curiga Itu Perlu

Betul, curiga itu perlu pada waktu dan kondisi yang tepat. Termasuk saat mendapati informasi, apapun. Saya selalu curiga terhadap informasi yang ‘too good to be true’ atau ‘too bad to be true’, intinya informasi yang berlebihan seandainya itu sesuatu yang terlalu baik atau terlalu buruk patut dicurigai kebenarannya. Selain itu saya dengan mudah mencurigai sesuatu yang tidak runtut secara kronologis, gagal logika, atau tidak sinkron. Misal tentang Habib X di Jakarta dia tiap hari Jumat menjelang jam 11 selalu masuk kamar dan keluar lagi pukul 1 siang, untuk sholat Jumat di Madinah. Nah, kejanggalannya ada pada perbedaan zona waktu. Saat di Jakarta pukul 11 siang itu di Madinah baru pukul berapa? Atau cerita lain, Prof. Dr. X, MT. peneliti dari BATAN menemukan bahwa bakteri ABC pada makanan DEF bisa menyebabkan pengerasan otak. Meski bisa saja benar, tetapi agak kurang sinkron (meski bisa saja) ada peneliti BATAN -yang ngurusi tenaga nuklir- itu dengan sangat selo meneliti bakteri pada makanan sampai pada efek-efeknya, apalagi disertai dengan istilah-istilah yang barangkali sangat asing. Jadi informasi yang TERLALU seandainya itu benar, NGGAK SINKRON, itu patut dicurigai.

Cari Informasi, Buat Kesimpulan

Begitu menerima informasi, cari informasi yang serupa. Maksudnya, mencari informasi tandingan apakah informasi yang Anda dapatkan itu benar, apakah informasi yang Anda terima itu bukan kabar bohong, HOAX. Baca tulisan-tulisan di media mainstream, media yang sudah jelas redakturnya, alamatnya. Paling tidak, dengan menggunakan informasi dari media yang sudah jelas redakturnya, jelas alamatnya, Anda lebih punya keyakinan dibandingkan dengan media yang tidak jelas, anonim. Kalau tidak menemukan yang berkaitan, coba cari satu-persatu berdasarkan kata kunci. Misal nama orang, nama bakteri, atau kata kunci dalam informasi yang Anda terima. Rangkai masing-masing informasi tersebut, dan buat kesimpulan apakah informasi kecil-kecil yang Anda kumpulkan itu sinkron dan bisa saling terkait. Cari sebanyak-banyaknya informasi sampai anda yakin mengenai nilai kebenaran informasi yang Anda terima, apakah informasi itu BENAR atau SALAH.

Bagi Atau Koreksi

Anda sudah yakin atas nilai kebenaran informasi yang Anda terima, tanyakan kembali pada diri Anda. Apa manfaatnya? Apa tidak menyakiti orang lain? Apa tidak menjelekkan pribadi orang lain? Apa ada potensi menimbulkan perselisihan? Apa informasi tidak mengandung unsur SARA? Kalau Anda yakin informasi itu BENAR, ‘AMAN’, dan BERMANFAAT anda bisa membagikannya kalau masih ingin membagikannya.

Bagaimana jika sebaliknya? Cukup berhenti sampai pada Anda, yakini bahwa informasi itu salah dan tidak baik untuk dibagikan. Sampaikan hasil penelusuran Anda kepada sumber informasi, sampaikan di dalam grup hasil penelusuran Anda supaya informasi HOAX tersebut terkoreksi. Apabila Anda terlanjur menyebarkan informasi HOAX tersebut, segera minta maaf dan sertakan hasil penelusuran Anda supaya informasi HOAX yang kelewat Anda sebarkan juga terkoreksi.

Dengan melakukan langkah terakhir, koreksi informasi HOAX, Anda telah turut andil dalam hajat besar MEMERANGI HOAX.

Pokoknya jangan SARA dan SARU! #eh

*Ngomong-ngomong, cara ini juga bisa diterapkan di Facebook, Twitter, Path, atau semacamnya juga lho.

Category:
  Personal
this post was shared 0 times
 600

3 Comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: