Alyosha

Yosha's First Year

”Mas, sore ini pulang Jogja ya,” begitu kudengar suara istri saya via telepon. Hari itu sekira setahun lalu memang minggu-minggu kritis menjelang hari perkiraan lahir (HPL). Segera saya ijin pulang lebih cepat dari kantor.

Sembari di dalam taksi menuju Halim, saya pesan tiket. Begitu mendekati gerbang masuk kompleks Halim, saya ditelpon istri lagi, “Mas, pulangnya nggak usah sekarang. Ini sama dokternya suruh pulang ke rumah lagi. Katanya kemungkinan lahirnya masih lama itungan hari.”

Dua hari selanjutnya, menjelang pukul 6 pagi saya kembali ditelpon, kali ini Bapak Mertua yang telepon, “Mas Nadi, pulang pagi ini ya. Langsung ke JIH saja, ini Data masuk rumah sakit.” Segera pagi itu saya cari tiket, alhamdulillah langsung dapat tiket. Dari tempat tinggal menuju Halim kebetulan pagi itu belum terlalu macet, tak sampai 20 menit perjalanan sudah sampai, langsung check-in.

Sampai di Jogja langsung menuju RS JIH. Setelah mandi, bersih-bersih, dan ganti baju di ruang rawat inap, saya langsung menuju ruang bersalin.

Pukul 10 pagi baru bukaan 4. Ditunggu sampai menjelang pukul 3 sore belum juga bertambah, sementara istri sudah berkali-kali teriak dan nangis kesakitan. Setelah konsultasi dengan dokter, kami memutuskan untuk dipasang ILA dengan harapan sakitnya agak berkurang, lebih tenang, dan mau makan supaya ada tenaga.

Sampai pukul 7 malam bukaan memang nambah sedikit tapi mentok dan tidak beranjak menuju 5. Pukul 8 malam kami kembali konsultasi dengan dokter. Seketika itu juga kami putuskan untuk SC meski dijadwalkannya sekitar pukul 10.30 malam, menunggu dokter anestesi siap.

Sekira pukul 10 istri dibawa ke ruang operasi bersama tiga dokter. Karena saya tidak boleh ikut, jadilah saya cuma wira-wiri di depan ruang tunggu. Meski dag-dig-dug, tapi saya percaya begitu saja kalau semua pasti lancar.

Jelang pukul 11 malam, samar-samar saya dengar suara bayi nangis di dalam ruang operasi, pertanda anak kami telah lahir. Tindakan operasi SC waktu itu adalah tindakan operasi terakhir di ruang operasi pada hari itu.

Saya dipanggil masuk ke samping ruang operasi, dipertemukan dengan anak kami. Dokter anak sembari memeriksa kondisi anak sambil menerangkan dan menjelaskan beberapa hal ini-itu. Istri saya masih dalam pengaruh bius total di dalam ruang operasi.

Sampai detik itu hingga dua hari berikutnya, saya dan istri meski sudah berusaha tetapi belum mendapatkan nama yang akan disematkan untuk anak kami. Hari ketiga pasca lahir, tepat setahun yang lalu, barulah kami mendapatkan nama untuk anak laki-laki kami. Yosha.

Tinggalkan Balasan

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More

%d blogger menyukai ini: