UberMOTOR di Jakarta

By Muh.Ahsan 2 years agoNo Comments

Pasar jasa transportasi di Jakarta memang sangat menarik dan cukup menggiurkan. Terlebih ketika bisnis di bidang ini disandingkan dengan teknologi digital. Sebut saja Go-Jek, Grab, dan Uber yang telah menuai kesuksesan branding di tengah kontroversi soal legalitas kendaraan yang digunakan.

Kami juga memberikan kemudahan pembayaran dengan tunai, kartu kredit atau debit, yang membuat pengalaman bersama Uber ini menjangkau masyarakat lebih luas – baik calon pengguna dan calon pengemudi – yang lebih memilih membayar tunai – hanya dengan menekan satu tombol untuk menuju ke kantor, hingga memiliki uang tunai secara fisik untuk mengisi bensin tiap hari.
Uber Indonesia

Di Jakarta, siapa tak kenal Go-Jek. Hampir setiap beberapa ratus meter di jalan protocol kita selalu menemukan pemotor berjaket atau berhelm hijau itu. Tak jauh beda dengan Grab dengan GrabBike-nya yang juga identic dengan warna hijau. Uber tak mau kalah, alih-alih fokus membidangi pelayanan dengan roda empat kini Uber menghadirkan layanan baru UberMOTOR. Ya, ride sharing motor ala UBER.

Aku punya harapan positif ketika membaca rilis di blog Uber Indonesia saat peluncuran layanan UberMOTOR. Pasalnya Uber dalam tulisan nampaknya begitu memperhatikan bagaimana hubungan antara pengguna dan pengemudi bukan sekedar soal uang bayaran.

Secara prinsip tak ada bedanya mengenai cara pemakaian antara Go-Jek, GrabBike, maupun UberMOTOR. Calon pengguna pesan melalui ponsel, driver datang menjemput, diantarkan sampai tujuan, bayar, dan beri penilaian ke driver. Maka kemudian hal yang akan membedakan ketiganya adalah additional services alias layanan tambahan dan coverage alias jangkauan. Persaingan yang seharusnya kedepan terjadi adalah persaingan tarif, layanan tambahan, kualitas layanan, dan coverage.

Aku pikir UberMOTOR sebagai pemain baru di dunia roda dua Jakarta sangat wajar agak mengalami kesulitan dalam ambil bagian. Terutama soal merebut hati pelanggan dan rekrutmen driver mengingat dua pemain lainnya sangat mendominasi dalam hal jumlah driver dan brand. Aku pun sampai sekarang masih menggunakan persepsi “Motor ya Go-Jek, Mobil ya Uber”. Sementara Grab posisi ada di antara keduanya mengingat Grab menyediakan GrabTaxi, GrabCar, dan GrabBike. Kupikir tak sedikit yang punya pemikiran serupa.

Membicarakan tarif, layanan online roda dua ini mulai menemukan pakem-nya, sudah ada titik temu keseimbangan harga antar penyedia layanan online ini. Paling pun selisih sekitar ratusan rupiah per kilometer, selebihnya berkutat pada skema tarif promo.

Kehebatan orang di Jakarta adalah latah. Kata-kata baru, promo, diskon, voucher, dan free sangat mendominasi bagaimana pengguna akan beralih menggunakan layanan lain ketika di tempat lain ada kata-kata tersebut. Maka langkah UberMOTOR hampir tepat dengan free riding untuk launching pertamanya. Sayangnya, dalam masa promo free riding ini ternyata coverage layanan masih sangat kurang. Coverage yang kumaksud tentu saja soal ketersediaan jumlah driver dan sebarannya.

Ah, ini kan baru sehari doang dirilisnya broooo….

Ya sudah, ditunggu saja. Toh harapannya dengan bertambahnya “pemain” akan menjadi semakin kompetitif, muncul inovasi-inovasi baru, pengguna dan driver semakin diuntungkan dengan kemudahan yang ditawarkan.

Btw, menurutku saat ini Go-Jek ada di posisi teratas soal inovasi additional services-nya. Yang lain mah ngikut dulu dah.

Category:
  Applications
this post was shared 0 times
 100

Leave a Reply

%d bloggers like this: