Kelas Inspirasi Bojonegoro #4

Sebagai seorang profesional, seorang geoscientist yang kesehariannya bekerja di bidang eksplorasi energi tentu saya tidak asing dengan istilah-istilah yang ada dalam dunia eksplorasi. Banyak terms teknis yang hanya dimengerti oleh mereka yang memang berkecimpung di dalamnya. Seorang ahli ilmu bumi pasti sangat memahami bagaimana sesuatu bekerja sejak dari tahapan awal eksplorasi sampai produksi, atau bahkan sampai distribusi energi. Presentasi, memberikan penjelasan, dan diskusi dengan sesama profesional sudah sering dilakukan. Ini bukan lagi menjadi hal yang menyebabkan gemetar dan salah tingkah karena sudah terbiasa, meski dalam “kebiasaan” itu selalu menghadirkan pengetahuan-pengetahuan baru.

Memberikan penjelasan kepada anak seusia sekolah dasar menjadi momen yang tentu saja bukan suatu kebiasaan. Itulah yang terjadi pada saya saat Hari Inspirasi di Bojonegoro tanggal 2 Mei 2016 yang lalu. Semua kejadian merupakan pengalaman pertama bagi saya. Saya mengajar sekaligus belajar banyak hal meski hanya sehari, bahkan hanya beberapa jam di SD Negeri Napis 4, Kabupaten Bojonegoro.

Sebelum Hari Inspirasi itu tiba, jauh-jauh hari saya sudah melakukan persiapan. Ayah saya dulunya seorang guru sekolah dasar yang mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan para tunas muda. Saya masih ingat betul setiap sore beliau selalu mempersiapkan bahan untuk mengajar hari esok, bahkan kadang sampai menjelang tengah malam. Saya harus melakukan hal yang sama, mengajar pun butuh persiapan dan butuh komitmen meski hanya sehari. Beberapa alat bantu mengajar sudah kupersiapkan beberapa hari sebelum hari itu tiba.

Rombongan belajar terdiri dari 20 relawan dan enam diantaranya adalah relawan pengajar, termasuk saya. Kami tiba di lokasi SD Negeri Napis 4 sehari sebelum Hari Inspirasi dengan menempuh perjalanan sekitar tiga jam dari ibukota Kabupaten Bojonegoro. Setibanya sore hari setelah dilakukan pertemuan singkat saya berkeliling ke sekitar memasuki dan mengamati kelas demi kelas seiring senja yang semakin gelap. Kusimpulkan, alat bantu yang saya persiapkan beberapa diantaranya tidak akan dapat digunakan. Saya memahami bahwa masih ada sekolah-sekolah yang kondisi fasilitasnya memerlukan perlakuan khusus, tetapi saya tak mengira bahwa hal ini juga ada di Kabupaten Bojonegoro.

Malam hari sembari bercengkerama bercanda dengan teman relawan lain saya berpikir supaya dengan alat bantu yang masih bisa digunakan pesan yang ingin saya sampaikan tetap bisa diterima dengan baik. Bagusnya, tiga dari enam relawan pengajar dalam rombongan belajar sudah pernah menjadi relawan pengajar di Kelas Inspirasi sebelumnya. Malam itu juga saya belajar dari pengalaman-pengalaman relawan pengajar lain.

Pagi di Hari Inspirasi, 2 Mei 2016. Pagi itu mentari menghadirkan senyum dan cuaca sangat cerah. Secerah harapan yang ada pada setiap relawan bahwa setelah hari itu akan ada tunas-tunas muda dari SD Negeri Napis 4 yang punya mimpi dan siap diraih. Sebelum kegiatan dimulai, saya berkenalan dan berdiskusi dengan bapak-ibu guru sekolah. Darinya terpancar semangat, kesabaran, konsistensi, dan komitmen luar biasa untuk mendidik tunas-tunas muda. Berbagai pengalaman mengajar di sekolah yang jauh dari ibukota dan jarak tempuh berkilo-kilometer menjadi bagian yang membuat saya kagum dengan kegigihan mereka. Pagi itu kegiatan dimulai dengan upacara bendera. Upacara bendera peringatan Hari Pendidikan Nasional pagi itu adalah upacara yang saya ikuti untuk kedua kalinya di tahun 2016, upacara bendera sebelumnya saat Syukuran Lima Tahun Indonesia Mengajar, 31 Januari lalu. Rasa haru kembali muncul meski tak sampai menitikkan air mata saat lagu kebangsaan Indonesia Raya kami nyanyikan di halaman sekolah. Sebuah halaman sekolah sederhana yang pada saat itu tengah berlangsung upacara bendera, juga diselenggarakan dengan sederhana.

Pada sesi pertama saya bersama Kak Esi –seorang analis hukum kelautan– masuk di ruang kelas yang berisi siswa kelas satu dan kelas dua. Sejak awal ruang kelas ini memang digabung dalam kegiatan belajar-mengajar sehari-hari. Saya diberi waktu 30 menit menguasai kelas, lima belas menit pertama berjalan tanpa masalah. Sampai pada menit ke-20 suasana mulai tak terkendali, saya pikir lima menit yang tersisa akan menjadi lima menit yang menyiksa karena saya mulai kehabisan cara. Baiknya, ada relawan fasilitator yang turut membantu saya untuk tetap menguasai kelas sembari menyampaikan pesan.

peta-indonesia-kelas

Dalam dua sesi berikutnya saya tidak terlalu kesulitan karena sudah belajar dari sesi sebelumnya. Peta Indonesia, segmen kotak-kotak lantai sekolah, dan papan di depan adalah andalan saya dalam menceritakan dan menyampaikan pesan. Cerita mengenai pekerjaan seorang ahli ilmu bumi melakukan pengamatan terhadap gunung api, gempa dan tanah longsor, mitigasi bencana, eksplorasi energi dan mineral pun bisa saya sampaikan dengan bahasa yang sederhana termasuk bagaimana proses seseorang bisa menjadi geoscientist. Dalam setiap sesi yang tersisa, saya dan Kak Esi selalu menutup dengan menggambarkan betapa Indonesia ini masih memiliki potensi sumber daya alam besar yang suatu saat akan sebanyak mungkin dikelola oleh bangsanya sendiri untuk kemaslahatan bangsanya sendiri, bangsa Indonesia.

Perjalanan berjam-jam dan rasa lelah selama menempuh perjalanan terbayar sudah meski baru setengah. Setengahnya lagi, melihat mimpi-mimpi tunas muda yang terwujud pada masa yang akan datang. Selepas hari itu, saya menginginkan lebih. Lebih banyak lagi turut terlibat lebih dalam, wujudkan lebih banyak mimpi anak Indonesia. Pada merekalah kita kenalkan cara kita mencintai, meraih mimpi, dan cita-cita besar bernama Indonesia.

Photograph by: WokArt Photography

Etika di WhatsApp Group

Barangkali hampir semua pengguna gawai canggih memiliki akun WhatsApp. Untuk menjalin komunikasi, Itu jelas. Pernahkah anda merasa terganggu karena notifikasi yang tang-ting-tung hampir setiap saat dari group WhatsApp yang anda buat atau anda ikuti? Berapa sih jumlah group yang anda ikuti di WhatsApp? Nah, bagaimana supaya merasa tidak terganggu dan tidak mengganggu sesame “penghuni” group?

Merasa terganggu pasti pernah lah ya. Aku juga termasuk orang yang kadang dalam saat-saat tertentu merasa terganggu karena saking rame-nya group WhatsApp. Yah, meski sebenernya aku hanya masuk di 12 group WhatsApp. Dari 12 group itu, dua diantaranya aku menjadi admin group dan 10 group lainnya diluar penguasaanku.

Perlakuan paling gampang dan hampir tidak membawa efek kurang baik ketika merasa terganggu dengan ramenya group WhatsApp adalah dengan MUTE. Ya, matikan notifikasi untuk group-group tertentu. Apabila masih kurang nyaman, tak ada salahnya keluar dari group. Sungkan? Ya tentu perasaan itu akan ada. Tapi keluarlah baik-baik, jangan meninggalkan jejak buruk di dalam group. Jadilah anggota group yang baik. Aku memiliki beberapa “aturan” untuk diriku sendiri ketika ada di dalam sebuah group.

Kenali seisi anggota group

Perlahan, kenali satu persatu anggota group sampai pada tingkatan karakternya. Jangan sungkan untuk menjadi anggota group pasif (silent reader) terlebih dahulu. Tak semua orang bisa diajak bercanda sampai level tertentu, terlebih kadang ada perbedaan umur yang signifikan antar anggotanya menyebabkan level guyonan juga berbeda. Mungkin bagi kebanyakan anggota group guyonan pada level tertentu adalah biasa, tapi bisa jadi ada sedikit anggota group yang menganggap guyonan itu sudah kelewatan dan melanggar marwah (pakai bahasa setil-nya anggota dewan).

Hargai privasi orang lain

Memposting foto orang lain yang memalukan di group adalah tindakan tidak terpuji. Jadi hindari memposting gambar atau capture status orang lain yang dirasa memalukan atau mengganggu privasi di group, terlebih orang tersebut ada di dalam group yang sama. Setiap individu di dalam group akan terusik ketika dilanggar privasinya. Paling tidak, jangan sampai benar-benar terekspos identitas yang ada di dalam gambar kalau memang hanya untuk sekedar joke. Gampangnya aplikasi WhatsApp yang bisa copy-paste atau forward membuat persebaran konten menjadi tak terkendali. Kita tak pernah tahu kemana saja konten yang kita post di WhatsApp tersebar.

Hargai waktu berkualitas orang lain

Maksudku tentu saja ada momen-momen tertentu yang orang lain mengharapkan ketenangan, sebut saja waktu beristirahat malam. Perkirakan saja zona waktu dari kebanyakan anggota group. Buat batasan kira-kira pukul berapa kebanyakan orang istirahat tidur malam. Aku mengusahakan untuk tidak posting di group antara pukul 22.00 sampai dengan pukul 08.00. Beberapa group yang kuikuti berisi orang-orang lintas zona waktu. Ada yang ketika ditempatku sudah menjelang siang, di tempat lain masih malam dinihari. Ambil saja mayoritas orang yang ada di group ada di zonasi waktu yang mana.

Posting sesuai tema

Beberapa group WhatsApp dibuat untuk tujuan tertentu atau tema tertentu. Misal group teman-teman SMA, teman-teman Kuliah, group Komunitas Blogger, group untuk persiapan acara tertentu, dan masih banyak lagi. Usahakan apa yang dibicarakan sesuai dengan tema atau tujuan tersebut. Kalaupun ada joke atau candaan, jangan sampai mendominasi konten sehingga mengurangi marwah group (halah… maneh). Jangan juga posting promosi produk kosmetik dan pembesar nganu di group yang bukan peruntukannya (#mdrcct).

Jangan sungkan untuk keluar dari group

Apabila memang sudah merasa terganggu, setiap anggota grup boleh saja keluar dari group. Keluarlah baik-baik, bisa jadi keluarnya njenengan dari group menjadi bahan introspeksi bagi seluruh anggota group mengenai “kenyamanan” di dalam group. Keluar dari group bukan berarti tidak menghargai orang yang telah mengundang atau seisi group.

Sementara ketika aku menjadi admin group, beberapa aturan yang aku pakai antara lain dalam hal mengundang seseorang untuk menjadi anggota group.

Usahakan mengundang secara personal terlebih dahulu

Ya benar, japri dulu baru kemudian benar-benar add to group. Sebenarnya aturan ini baru saja aku mulai. Kepikiran demikian karena kadang ketika aku masuk di grup tertentu aku tidak begitu mengenal satu persatu anggota grup sehingga harus kepo cek satu persatu foto profil, nomor ponsel, dan nama (opo maneh yen ayu banget). Nah, ternyata tak semua orang nyaman dikepoin dengan cara-cara demikian. Jadi sebelum memasukkan seseorang ke dalam group, tak ada salahnya berkomunikasi secara personal (japri) terlebih dahulu. Utarakan dan tanyakan kesediaannya untuk dimasukkan ke dalam group.

Tutup group yang sudah selesai manfaatnya

Ada beberapa group yang dibuat untuk tujuan penyelenggaraan atau keperluan tertentu. Setelah selesai, kadang group berlanjut menjadi ajang silaturahmi sesama anggotanya. Namun, ada juga group yang setelah selesai kemudian tidak aktif sampai berbulan-bulan. Group yang sudah tidak aktif ini yang aku sebut sebagai selesai manfaat. Sebagai admin, utarakan saja rencana penutupan group. Sebelum ditutup, pastikan tak ada lagi anggota group yang tersisa di dalamnya. Apabila group masih aktif tetapi isi percakapan atau tujuan group berbeda, jangan sungkan untuk mengubah nama group.

Terakhir, secara umum (tak hanya di dalam percakapan WhatsApp) selalu junjung tinggi norma-norma yang berlaku di masyarakat. Misal tidak posting yang menyentuh isu-isu negatif SARA, tidak menyinggung orang lain, tidak mempermalukan orang lain maupun diri sendiri, dan tidak mencemarkan nama baik.