Social Archives - Nahdhi https://nahdhi.com Side Notes Wed, 29 Jun 2022 18:43:39 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.0 https://i0.wp.com/nahdhi.com/wp-content/uploads/2019/01/image-1.jpg?fit=32%2C32&ssl=1 Social Archives - Nahdhi https://nahdhi.com 32 32 110004917 Kejadiannya Sama Aja https://nahdhi.com/kejadiannya-sama-aja/ https://nahdhi.com/kejadiannya-sama-aja/#respond Wed, 29 Jun 2022 18:37:55 +0000 https://nahdhi.com/?p=620 Aku ingat ada dua orang kawanku yang kutemui dalam waktu berbeda menceritakan sebuah kejadian yang sama tetapi citarasa dari ceritanya menjadi berbeda. Aku sengaja meringkas ceritanya supaya tidak menjadi cerita yang terlalu panjang.

Kawan 1:

Pagi tadi aku melihat kecelakaan di depan kampus deket pintu masuk MIPA. Kebetulan salah satu dosen yang mestinya ngajar kelasku lewat, dia berhenti dan menolong orang yang sudah berdarah-darah dan dibawa ke Sardjito. Jadilah tadi kelasku telat mulainya.”

Kawan 2:

Pagi tadi aku melihat kecelakan di depan kampus deket pintu masuk MIPA. Puji Tuhan, Tuhan menolong orang yang kecelakaan itu dengan menghadirkan orang baik yang melintas di dekatnya. Orang itu dengan sigap membawanya ke Sardjito.”

Setelah kupikir-pikir, dua kawan saya tadi memang memiliki kebiasaan yang berbeda. Satunya entah beragama atau tidak dan entah taat atau tidak, sementara satunya lagi benar-benar pribadi yang taat pada agamanya. Dalam cerita kawan pertama, dia menceritakan peran individu yang menolong orang kecelakaan. Kawan saya yang kedua, dia tengah menceritakan Tuhannya yang menolong orang kecelakaan tadi melalui tangan penolong.

Dalam prespektif kawan saya yang pertama, peran Tuhan seolah nihil. Seakan ada atau tidak ada peran Tuhan, kejadian yang sama tetap berlangsung.

Dalam prespektif kawan saya yang kedua, Tuhan hadir bagi orang-orang beriman karena orang beriman menghadirkan peran Tuhan dalam hidupnya.

Bagaimana kamu akan menceritakan padaku seandainya kamu melihat kejadian yang sama dengan kawanku tadi?

]]>
https://nahdhi.com/kejadiannya-sama-aja/feed/ 0 620
Nandur, Menanam https://nahdhi.com/menanam/ https://nahdhi.com/menanam/#respond Thu, 18 Oct 2018 01:29:30 +0000 https://nahdhi.com/?p=285 Saya masih ingat, ungkapan “Nandur Woh Ngangsu Kawruh” menjadi tema utama festival Tlatah Bocah bertahun-tahun silam. Menanam benih memetik pelajaran, kira-kira begitu artinya. Tahun ini, Festival Tlatah Bocah yang tengah digelar di sekitaran lereng Merapi Magelang membawa tema “Holopis Kuntul Baris“. Gotong royong, berbondong-bondong menuju kebajikan. Itu persepsi saya.

Kembali menyoal “nandur”, keseharian kita adalah menanam.

Apa yang kita ungkapkan dan bagaimana perilaku kita adalah benih yang kita tanam. Benih itu tumbuh sebagai pohon persepsi di kepala orang lain. Bisa dipanen pada saat itu juga, bisa juga suatu saat ke depan baru ketemu imbalan/balasannya, bahkan saat tanpa kita harap dan tanpa kita menyadarinya.

Evaluasi, dari situlah sesungguhnya kita memetik pelajaran dari apa yang kita tanam. Apa menghasilkan kebaikan untuk diri sendiri, baik bagi keluarga, baik bagi manusia, kebajikan bagi semesta. Atau sebaliknya, menghasilkan keburukan.

Bila telah lacur menghasilkan keburukan. Menanam benih baik merupakan cara untuk mengubah. Mengganti tanaman yang buruk dengan yang baik. Namun, tanaman bisa ditebang, akarnya tetap tinggal di kepala orang lain.

Berbuat baik tidak selalu dipersepsikan kebaikan di kepala orang lain. Elok dalam berperilaku tidak selalu dipersepsikan kebaikan di kepala orang lain. Beretika dalam pergaulan tidak selalu dipersepsikan kebaikan di kepala orang lain. Jika saja yang baik, indah, elok, pun masih bisa dipersepsikan jelek, apalagi dengan yang tidak baik.

Tanamlah benih yang baik.

Semoga Tuhan membimbing kita semua dalam menanam kebaikan dan keindahan.

]]>
https://nahdhi.com/menanam/feed/ 0 285
Written, Return https://nahdhi.com/written-return/ https://nahdhi.com/written-return/#respond Fri, 12 Oct 2018 03:50:44 +0000 https://nahdhi.com/?p=227 ya, Pak.” Huruf e diucapkan seperti saat mengucapkan kepala. Kami seisi ruangan lima orang sebenarnya bingung memahami ucapan tersebut (kecuali yang ngomong). Satu diantara […]]]> Gara-gara salah satu karyawan di suatu instansi agak keinggris-inggrisan, rapat dua hari lalu menjadi kurang efektif. Maksudnya pembahasan tidak fokus pada permasalahan yang ada, yaitu keterlambatan pembayaran.

“Itu pernyataan keberatannya kami mau <riten> ya, Pak.”

Huruf diucapkan seperti saat mengucapkan kepala.

Kami seisi ruangan lima orang sebenarnya bingung memahami ucapan tersebut (kecuali yang ngomong). Satu diantara kami lantas entah apa yang dipikirannya bertanya:

“Kok malah dibalikin sih, Mbak?”

“<riten>, Pak. Bukan <ritern>. Tertulis.”

Karena antara tanpa sisipan atau dengan sisipan r di tengah hampir tak terdengar, kami berempat pun memahaminya berbeda, dikembalikan.

Mungkin karena saya terbiasa mendengarkan <reitn> untuk written, lainnya <wraiten>, atau sebagaimana tulisan aslinya <written> untuk written maka kami agak bingung karena kata yang diucapkan <riten> juga terdengar seperti return.

Sayangnya, diskusi mengenai mana yang benar antara <riten>, <reitn>, <wraiten>, dan <written> untuk menyatakan “tertulis” ini justru berlanjut hampir 20 menit hingga waktu rapat sesungguhnya habis. Itu pun tanpa menghasilkan kesimpulan yang memadahi dan meyakinkan mana yang benar pengucapannya.

Googling? Sayangnya di ruang rapat tersebut kami sepakat semua peserta tidak ada yang diperbolehkan membawa perangkat telekomunikasi digital maupun alat perekam dalam bentuk apapun.

Tujuan rapat sore itu hampir saja tidak tercapai seandainya tidak ada waktu tambahan 10 menit.

Pertanyaan saya pada penutupan rapat:

Kenapa sih nggak pakai Bahasa Indonesia aja? Sekalipun menggunakan Bahasa Indonesia nggak formal, kan kita semua pasti lebih ngerti maksudnya.


Setelah mencari-cari, ternyata ada beberapa variasi pelafalan yang salah satunya adalah <ritn> dengan penekanan pada huruf r di depan, penekanan t di tengah, dan mati n. Orang Jawa bilang “n dipangku”. Tidak hanya di Indonesia, di mana pun di dunia ini untuk setiap bahasa juga memiliki berbagai variasi logat.

]]>
https://nahdhi.com/written-return/feed/ 0 227
Naik Ojek Online di Stasiun Jogja https://nahdhi.com/lokasi-ojek-online-stasiun-tugu-lempuyangan/ https://nahdhi.com/lokasi-ojek-online-stasiun-tugu-lempuyangan/#comments Tue, 09 Oct 2018 19:53:20 +0000 https://nahdhi.com/?p=198 Sudah delapan bulan belakangan ini saya sedikitnya dua minggu sekali selalu melakukan perjalanan Jakarta-Jogjakarta karena anak dan istri sementara ini tinggal di Jogja. Hampir setiap kali pulang ke Jogja saya selalu memilih moda transportasi kereta api. Harga tiket untuk kelas non-PSO (ekonomi premium, bisnis, eksekutif) masih lumayan bisa saya beli.

Awal tahun lalu saya masih lumayan santai setiap kali tiba di stasiun karena begitu saya turun kereta, bisa langsung order Go-Jek, Grab, atau Uber (dulu Uber masih ada) dan dijemput tukang ojek tepat di depan pintu keluar stasiun. Namun, semenjak ada beberapa kali keributan antara ojol dan opang di berbagai daerah, rupanya Jogja hampir tak luput dari provokasi ojol vs opang.

Di dua stasiun utama Jogjakarta (Stasiun Tugu dan Lempuyangan), sekarang sudah ada “pembagian wilayah” antara ojol dan opang. Seperti halnya di beberapa kota lain, ojol tak bisa sembarangan mengambil sewa penumpang di pusat-pusat keramaian. Karena pembagian ini, tukang ojek online tidak mau menjemput penumpang di pintu keluar stasiun. Berikut ini lokasi penjemputan ojek online sekitar stasiun di Yogyakarta:

Stasiun Yogyakarta/Tugu

Di Stasiun Yogyakarta (stasiun Tugu), lokasi pick-up atau penjemputan penumpang ada di seberang Hotel Neo (buka di google maps). Untuk menuju lokasi tersebut, calon penumpang keluar melalui pintu selatan, kebetulan sekarang yang dibuka hanya pintu selatan sebagai pintu keluar penumpang. Dari pintu selatan cukup berjalan kaki keluar gerbang dan menyusuri trotoar ke arah kiri tanpa menyeberang jalan raya ke arah Hotel Neo, searah dengan kalau mau jalan kaki ke Malioboro. Trotoarnya lumayan lebar dan selalu ramai. Lokasi Hotel Neo ada di sebelah kanan jalan.

Lokasi penjemputan ojol Stasiun Tugu (maps via Apple Maps)

Supaya lebih gampang, saya gambarkan di tangkapan layar peta. Ada zona yang saya tandai warna merah di sebagian Jl. Pasar Kembang dan di dalam kompleks stasiun. Jangan minta jemput tukang ojek online di area tersebut. Berjalanlah sesuai yang saya tunjukkan tadi, menuju area Hotel Neo.

Stasiun Lempuyangan

Di Stasiun Lempuyangan lokasi penjemputan ada di bawah jembatan layang/ flyover (buka di google maps). Begitu keluar gerbang Stasiun Lempuyangan, berjalan ke kiri menyusuri jalan raya sampai ujung pertigaan di bawah jembatan layang. Selanjutnya, berjalan ke kiri menyeberang perlintasan kereta sebidang. Lokasi penjemputan tepat di sebelah perlintasan sebidang dan tempat putar balik kendaraan (U turn), berupa taman kecil di pinggir jalan.

Sepanjang Jalan Stasiun Lempuyangan merupakan zona merah. Demi kebaikan bersama, jangan meminta jemput di zona merah. Jalan saja sedikit ke arah perlintasan di bawah jembatan layang. Khusus lokasi di bawah jembatan layang ini, ada baiknya pastikan tidak sendirian karena lokasinya agak sepi. Kalau sepi, sebaiknya tunggu saja tepat di pertigaan sebelum melewati perlintasan sebidang. Lokasi tersebut lumayan terang dan ada angkringan juga di pertigaan.

Lokasi penjemputan ojol Stasiun Lempuyangan (maps via Apple Maps)

Untuk penumpang ojek online yang menuju Stasiun Tugu maupun Lempuyangan, sejauh ini tidak ada masalah untuk menurunkan penumpang di dekat pintu masuk stasiun.


Tulisan ini dibuat karena ada pengunjung nyasar di blog ini via google search dengan kata kunci lokasi pesan ojek online stasiun lempuyangan.

]]>
https://nahdhi.com/lokasi-ojek-online-stasiun-tugu-lempuyangan/feed/ 4 198
Menghindari Hoax di Grup WhatsApp https://nahdhi.com/hoax-wa-bbm/ https://nahdhi.com/hoax-wa-bbm/#respond Wed, 03 Oct 2018 10:28:25 +0000 https://nahdhi.com/?p=93 WhatsApp, BBM, Line, dan Telegram menduduki empat teratas dari aplikasi chatting terpopuler di Indonesia. Barangkali siapapun pengguna smartphone di Indonesia pasti didalamnya ada aplikasi tersebut, sedikitnya satu aplikasi diantara empat tersebut. Empat aplikasi tersebut semuanya menyediakan fitur chatting dalam bentuk grup (group chat) dan mengirim pesan ke banyak orang (broadcast). Seperti halnya media sosial semacam Facebook, group chatting pun juga rentan menjadi medium persebaran informasi HOAX. Selaku pengguna medium informasi, sudah sepatutnya menjadi pengguna yang cerdas dalam menerima informasi.

Barangkali, pernah suatu ketika Anda mendapatkan broadcast atau dalam group chat WA salah satu teman anda memposting tulisan yang pada kemudian hari Anda mendapati bahwa tulisan tersebut adalah kabar bohong, HOAX. Atau barangkali lebih parah lagi Anda dengan serta merta telah turut meneruskan (forward), copy paste kabar tersebut ke grup chat WA lain atau broadcast BBM ke teman anda yang lain. Betapa malunya ketika Anda kedapatan menjadi agen penyebar HOAX, meski tidak disengaja.

Nah, bagaimana sih supaya Kita (Anda dan Saya), lebih cerdas dan tidak dengan mudah terpancing menjadi agen penyebar HOAX?

Kendalikan Nafsu Berbagi

Barangkali pernah Anda mendapatkan suatu informasi yang membuat senang atau sangat setuju dengan konten informasi itu sehingga anda sangat ingin membagikannya kepada orang-orang dekat atau rekan sejawat Anda. Atau, pernah lain waktu anda mendapati informasi yang membuat anda khawatir terhadap keluarga dan teman-teman Anda sehingga dengan serta merta Anda forward informasi tersebut ke keluarga atau teman dengan maksud supaya mereka lebih berhati-hati. Apabila mendapati informasi yang demikian: TAHAN. Baca kembali dua atau tiga kali, kemudian tarik nafas sejenak dan jauhkan jemari dari HP supaya emosi pada diri Anda yang fluktuatif itu menjadi relatif lebih stabil.

Curiga Itu Perlu

Betul, curiga itu perlu pada waktu dan kondisi yang tepat. Termasuk saat mendapati informasi, apapun. Saya selalu curiga terhadap informasi yang ‘too good to be true’ atau ‘too bad to be true’, intinya informasi yang berlebihan seandainya itu sesuatu yang terlalu baik atau terlalu buruk patut dicurigai kebenarannya. Selain itu saya dengan mudah mencurigai sesuatu yang tidak runtut secara kronologis, gagal logika, atau tidak sinkron. Misal tentang Habib X di Jakarta dia tiap hari Jumat menjelang jam 11 selalu masuk kamar dan keluar lagi pukul 1 siang, untuk sholat Jumat di Madinah. Nah, kejanggalannya ada pada perbedaan zona waktu. Saat di Jakarta pukul 11 siang itu di Madinah baru pukul berapa? Atau cerita lain, Prof. Dr. X, MT. peneliti dari BATAN menemukan bahwa bakteri ABC pada makanan DEF bisa menyebabkan pengerasan otak. Meski bisa saja benar, tetapi agak kurang sinkron (meski bisa saja) ada peneliti BATAN -yang ngurusi tenaga nuklir- itu dengan sangat selo meneliti bakteri pada makanan sampai pada efek-efeknya, apalagi disertai dengan istilah-istilah yang barangkali sangat asing. Jadi informasi yang TERLALU seandainya itu benar, NGGAK SINKRON, itu patut dicurigai.

Cari Informasi, Buat Kesimpulan

Begitu menerima informasi, cari informasi yang serupa. Maksudnya, mencari informasi tandingan apakah informasi yang Anda dapatkan itu benar, apakah informasi yang Anda terima itu bukan kabar bohong, HOAX. Baca tulisan-tulisan di media mainstream, media yang sudah jelas redakturnya, alamatnya. Paling tidak, dengan menggunakan informasi dari media yang sudah jelas redakturnya, jelas alamatnya, Anda lebih punya keyakinan dibandingkan dengan media yang tidak jelas, anonim. Kalau tidak menemukan yang berkaitan, coba cari satu-persatu berdasarkan kata kunci. Misal nama orang, nama bakteri, atau kata kunci dalam informasi yang Anda terima. Rangkai masing-masing informasi tersebut, dan buat kesimpulan apakah informasi kecil-kecil yang Anda kumpulkan itu sinkron dan bisa saling terkait. Cari sebanyak-banyaknya informasi sampai anda yakin mengenai nilai kebenaran informasi yang Anda terima, apakah informasi itu BENAR atau SALAH.

Bagi Atau Koreksi

Anda sudah yakin atas nilai kebenaran informasi yang Anda terima, tanyakan kembali pada diri Anda. Apa manfaatnya? Apa tidak menyakiti orang lain? Apa tidak menjelekkan pribadi orang lain? Apa ada potensi menimbulkan perselisihan? Apa informasi tidak mengandung unsur SARA? Kalau Anda yakin informasi itu BENAR, ‘AMAN’, dan BERMANFAAT anda bisa membagikannya kalau masih ingin membagikannya.

Bagaimana jika sebaliknya? Cukup berhenti sampai pada Anda, yakini bahwa informasi itu salah dan tidak baik untuk dibagikan. Sampaikan hasil penelusuran Anda kepada sumber informasi, sampaikan di dalam grup hasil penelusuran Anda supaya informasi HOAX tersebut terkoreksi. Apabila Anda terlanjur menyebarkan informasi HOAX tersebut, segera minta maaf dan sertakan hasil penelusuran Anda supaya informasi HOAX yang kelewat Anda sebarkan juga terkoreksi.

Dengan melakukan langkah terakhir, koreksi informasi HOAX, Anda telah turut andil dalam hajat besar MEMERANGI HOAX.

Pokoknya jangan SARA dan SARU! #eh

*Ngomong-ngomong, cara ini juga bisa diterapkan di Facebook, Twitter, Path, atau semacamnya juga lho.

]]>
https://nahdhi.com/hoax-wa-bbm/feed/ 0 93
Etika di Whatsapp Group https://nahdhi.com/wa-group/ https://nahdhi.com/wa-group/#respond Tue, 02 Oct 2018 11:06:08 +0000 https://nahdhi.com/?p=37 Barangkali hampir semua pengguna gawai canggih memiliki akun WhatsApp. Untuk menjalin komunikasi, Itu jelas. Pernahkah anda merasa terganggu karena notifikasi yang tang-ting-tung hampir setiap saat dari group WhatsApp yang anda buat atau anda ikuti? Berapa sih jumlah group yang anda ikuti di WhatsApp? Nah, bagaimana supaya merasa tidak terganggu dan tidak mengganggu sesama “penghuni” group?

Merasa terganggu pasti pernah lah ya. Aku juga termasuk orang yang kadang dalam saat-saat tertentu merasa terganggu karena saking rame-nya group WhatsApp. Yah, meski sebenernya aku hanya masuk di 12 group WhatsApp. Dari 12 group itu, dua diantaranya aku menjadi admin group dan 10 group lainnya diluar penguasaanku.

Perlakuan paling gampang dan hampir tidak membawa efek kurang baik ketika merasa terganggu dengan ramenya group WhatsApp adalah dengan MUTE. Ya, matikan notifikasi untuk group-group tertentu. Apabila masih kurang nyaman, tak ada salahnya keluar dari group. Sungkan? Ya tentu perasaan itu akan ada. Tapi keluarlah baik-baik, jangan meninggalkan jejak buruk di dalam group. Jadilah anggota group yang baik. Aku memiliki beberapa “aturan” untuk diriku sendiri ketika ada di dalam sebuah group.

Kenali seisi anggota group

Perlahan, kenali satu persatu anggota group sampai pada tingkatan karakternya. Jangan sungkan untuk menjadi anggota group pasif (silent reader) terlebih dahulu. Tak semua orang bisa diajak bercanda sampai level tertentu, terlebih kadang ada perbedaan umur yang signifikan antar anggotanya menyebabkan level guyonan juga berbeda. Mungkin bagi kebanyakan anggota group guyonan pada level tertentu adalah biasa, tapi bisa jadi ada sedikit anggota group yang menganggap guyonan itu sudah kelewatan dan melanggar marwah (pakai bahasa setil-nya anggota dewan).

Hargai privasi orang lain

Memposting foto orang lain yang memalukan di group adalah tindakan tidak terpuji. Jadi hindari memposting gambar atau capture status orang lain yang dirasa memalukan atau mengganggu privasi di group, terlebih orang tersebut ada di dalam group yang sama. Setiap individu di dalam group akan terusik ketika dilanggar privasinya. Paling tidak, jangan sampai benar-benar terekspos identitas yang ada di dalam gambar kalau memang hanya untuk sekedar joke. Gampangnya aplikasi WhatsApp yang bisa copy-paste atau forward membuat persebaran konten menjadi tak terkendali. Kita tak pernah tahu kemana saja konten yang kita post di WhatsApp tersebar.

Hargai waktu berkualitas orang lain

Maksudku tentu saja ada momen-momen tertentu yang orang lain mengharapkan ketenangan, sebut saja waktu beristirahat malam. Perkirakan saja zona waktu dari kebanyakan anggota group. Buat batasan kira-kira pukul berapa kebanyakan orang istirahat tidur malam. Aku mengusahakan untuk tidak posting di group antara pukul 22.00 sampai dengan pukul 08.00. Beberapa group yang kuikuti berisi orang-orang lintas zona waktu. Ada yang ketika ditempatku sudah menjelang siang, di tempat lain masih malam dinihari. Ambil saja mayoritas orang yang ada di group ada di zonasi waktu yang mana.

Posting sesuai tema

Beberapa group WhatsApp dibuat untuk tujuan tertentu atau tema tertentu. Misal group teman-teman SMA, teman-teman Kuliah, group Komunitas Blogger, group untuk persiapan acara tertentu, dan masih banyak lagi. Usahakan apa yang dibicarakan sesuai dengan tema atau tujuan tersebut. Kalaupun ada joke atau candaan, jangan sampai mendominasi konten sehingga mengurangi marwah group (halah… maneh). Jangan juga posting promosi produk kosmetik dan pembesar nganu di group yang bukan peruntukannya (#mdrcct).

Jangan sungkan untuk keluar dari group

Apabila memang sudah merasa terganggu, setiap anggota grup boleh saja keluar dari group. Keluarlah baik-baik, bisa jadi keluarnya njenengan dari group menjadi bahan introspeksi bagi seluruh anggota group mengenai “kenyamanan” di dalam group. Keluar dari group bukan berarti tidak menghargai orang yang telah mengundang atau seisi group.

Sementara ketika aku menjadi admin group, beberapa aturan yang aku pakai antara lain dalam hal mengundang seseorang untuk menjadi anggota group.

Usahakan mengundang secara personal terlebih dahulu

Ya benar, japri dulu baru kemudian benar-benar add to group. Sebenarnya aturan ini baru saja aku mulai. Kepikiran demikian karena kadang ketika aku masuk di grup tertentu aku tidak begitu mengenal satu persatu anggota grup sehingga harus kepo cek satu persatu foto profil, nomor ponsel, dan nama (opo maneh yen ayu banget). Nah, ternyata tak semua orang nyaman dikepoin dengan cara-cara demikian. Jadi sebelum memasukkan seseorang ke dalam group, tak ada salahnya berkomunikasi secara personal (japri) terlebih dahulu. Utarakan dan tanyakan kesediaannya untuk dimasukkan ke dalam group.

Tutup group yang sudah selesai manfaatnya

Ada beberapa group yang dibuat untuk tujuan penyelenggaraan atau keperluan tertentu. Setelah selesai, kadang group berlanjut menjadi ajang silaturahmi sesama anggotanya. Namun, ada juga group yang setelah selesai kemudian tidak aktif sampai berbulan-bulan. Group yang sudah tidak aktif ini yang aku sebut sebagai selesai manfaat. Sebagai admin, utarakan saja rencana penutupan group. Sebelum ditutup, pastikan tak ada lagi anggota group yang tersisa di dalamnya. Apabila group masih aktif tetapi isi percakapan atau tujuan group berbeda, jangan sungkan untuk mengubah nama group.

Terakhir, secara umum (tak hanya di dalam percakapan WhatsApp) selalu junjung tinggi norma-norma yang berlaku di masyarakat. Misal tidak posting yang menyentuh isu-isu negatif SARA, tidak menyinggung orang lain, tidak mempermalukan orang lain maupun diri sendiri, dan tidak mencemarkan nama baik.

]]>
https://nahdhi.com/wa-group/feed/ 0 37
Becak, Go-Jek, Go-Car di Jogjakarta https://nahdhi.com/becak-go-jek-go-car-di-jogjakarta/ https://nahdhi.com/becak-go-jek-go-car-di-jogjakarta/#respond Mon, 01 Oct 2018 16:54:09 +0000 https://nahdhi.com/?p=73

Sore itu saya ada keperluan mengangkut beberapa foto pernikahan saya dengan dik Data, hanya empat foto berukuran besar beserta bingkainya. Saya datang ke rumah fotografer pernikahan saya mengendarai sepeda motor. Sedianya mau saya angkut dengan sepeda motor saja, tapi ternyata ukuran foto dan bingkainya terlalu besar kalau diangkut dengan sepeda motor. Saya dan dik Data memutuskan untuk menggunakan jasa transportasi berbasis online, Go-Car. Dalam percakapan dengan pengemudi melalui telepon sebelum penjemputan, pertanyaan pertama dari pengemudi adalah jumlah penumpang.

Lain waktu, saya juga ada keperluan pulang selepas acara resepsi pernikahan di Wisma KAGAMA menuju rumah mertua di daerah sekitar Sleman. Lantaran sudah dalam kondisi lelah, saya dan dik Data memilih menggunakan layanan Go-Car lagi supaya tidak perlu jalan kaki terlalu jauh. Percakapan dengan pengemudi sebelum penjemputan pun diawali dengan pertanyaan jumlah penumpang.

Beberapa kali saya pesan pun juga demikian. Saya bahkan mengira bahwa kebanyakan orang di Jogja pesen Go-Car untuk keperluan rombongan yang terdiri dari banyak orang. Bisa juga pengemudi ogah-ogahan ngambil orderan yang banyak orang begituan. Suatu waktu didasari rasa penasaran yang tinggi karena sudah kejadian berulang-ulang, saya dalam perjalanan menggunakan Go-Car pada suatu pemberhentian lampu merah perempatan gejayan yang luamaaaaa ngaudubilah, saya bertanya ke pengemudi,

“Pak, di Jogja banyak juga pak pengguna layanan Go-Car? Kalau di Jakarta itu banyak pengemudi bilang orderan ga pernah berhenti.”
“Ya sama Mas, di Jogja juga gitu. Tapi kita kalau mau ambil juga pilih-pilih. Saya kalau orderan dibawah 30 ribu nggak saya ambil.”

“Lho kenapa pak?”
“Ya kalau dibawah 30 ribu itu kan biasanya untuk jarak deket. Itu juga kalau ada diatas 30 ribu saya juga tanya berapa penumpang. Kalau hanya satu penumpang dan bawaan dikit ya saya saranin naik Go-Jek aja. Makanya tadi saya nanya dulu penumpangnya berapa orang.”

“Kalau di Jakarta sih mau berapa aja juga diambil pak. Yang penting nggak nombok operasional aja.”
“Perhitungan operasional juga kayak misal jemputnya jauh gitu kan mending nggak diambil. Ya, kalau gini kan kita juga bagi-bagi segmennya Mas. Jadi nggak ada rebutan. Kalau jarak jauh diatas 30 ribu banyak orang apa banyak bawaan ya pake taxi atau Go-Car. Kalau yang cuma satu orang dan agak jauh kita saranin pake tukang ojek apa Go-Jek. Yang deket-deket sekilo dua kilo biar becak yang ngambil. Gitu kan jadi fair mas. Sama-sama enak.”

“Itu emang kesepakatan atau gimana, Pak?”
“Ya nggak ada mas. Cuma dari mulut ke mulut aja. Ya kesadaran masing-masing aja lah mas. Kan nggak baik juga kethoho (serakah). Sesama yang biasa di jalan udah tau lah yang begituan mas di sekitar sini.”

Astagfirullah, selama ini saya sudah berprasangka buruk pada pengemudi-pengemudi yang dalam pembicaraan di telepon selalu menanyakan jumlah penumpang terlebih dahulu.

Lain kejadian, kawan saya suatu pagi tiba di stasiun Tugu dan memesan layanan Go-Jek untuk tujuan Kilometer Nol (Kantor Pos). Beberapa kali order tetapi tidak ada pengemudi Go-Jek yang ambil meski banyak mitra pengemudi Go-Jek di sekitar stasiun Tugu. Sekalinya ada yang ambil ordernya, pengemudi menghubungi kawan saya itu dan menyarankan untuk naik becak saja kalau cuma untuk jarak dekat. Kawan saya nggrundel, “mau dapet rejeki kok ditolak, sombong amat tukang ojek di sini.”

Yah begitulah. Tanpa menyelidiki latar belakangnya, seringkali menungsolebih mudah mengungkapkan sisi kekurangan menungso lain dan disesaki oleh prasangka buruk.

Ternyata dari beberapa contoh tadi mungkin ada benarnya apa yang diungkapkan pak pengemudi. Bisa jadi itu juga yang mendasari kenapa jarang ada percekcokan antara yang online dan offline di Jogja.

Semoga yang demikian bisa menjadi pembelajaran bagi saya supaya lebih berhati-hati dalam berprasangka tanpa didasari informasi lengkap. Menyegerakan diri mencari informasi lebih lengkap dan benar saat mulai berprasangka buruk.

]]>
https://nahdhi.com/becak-go-jek-go-car-di-jogjakarta/feed/ 0 73