Arahan Kepala BMKG dalam Pembukaan Pelatihan Dasar CPNS Golongan III Angkatan XXII – XXVIII dan Golongan II Angkatan III

Jakarta – Selasa (26/07), Pusat Pendidikan dan Pelatihan BMKG menggelar Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Golongan III Angkatan XXII – XXVIII dan Golongan II Angkatan III (CPNS 2022) secara blended learning. Kegiatan ini dibuka langsung oleh Kepala BMKG -Dwikorita Karnawati- secara daring yang diikuti seluruh peserta Latsar CPNS BMKG dari berbagai daerah di Indonesia dan dihadiri para kepala UPT maupun Kepala Satker. Mandiri di lingkungan BMKG.

Dalam arahannya, Kepala BMKG menyampaikan pandangannya terkait pentingnya eksistensi BMKG di Indonesia dan lingkup regional maupun lingkup global. Selain itu, Kepala BMKG juga memberikan beberapa arahan penting bagi para ASN di lingkungan BMKG terkait sikap dan perilaku, harus lekat dengan sains, berorientasi pada pelayanan, membangun kemandirian bangsa, dan pandangannya terkait transformasi organisasi di BMKG.


Refleksi Arahan Kepala BMKG Dalam Pembukaan Latsar CPNS BMKG 2022

Oleh: Muh Nahdhi Ahsan

Sikap Sebagai ASN BMKG

Selaku abdi negara, CPNS BMKG harus menghargai keberagaman, perbedaan (diversity) dan kesetaraan gender. PNS -tanpa memandang gender- harus siap ditempatkan di mana saja di seluruh wilayah Indonesia sesuai dengan pernyataan yang telah ditandatangani sebelumnya. Penempatan tugas di pelosok merupakan peluang untuk menghasilkan pemikiran-pemikiran besar dengan terbiasa menghadapi tantangan dan keluar dari zona nyaman. Operasional BMKG tidak mengenal waktu. Beroperasi 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Dalam menjalankan tugasnya perlu berkolaborasi dan team work. Sebagai aparatur sipil negara di BMKG harus siap berkolaborasi dengan siapa saja, bekerja kapan saja, dan di mana saja.

BMKG dan Sains

Tugas di BMKG dekat dengan sains. Tools utama di BMKG adalah ilmu yang berkaitan dengan atmosfer, kelautan, dan kebumian. Dalam melaksanakan tugas harus mengedepankan scientific approach atau pendekatan berbasis sains. BMKG dalam memberikan layanan ke-MKG-an bertujuan untuk “…melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum…” sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Dasar 1945.

Layanan informasi didiseminasikan kepada stakeholder dan masyarakat selaku end user. Misal: petani terinformasikan tentang adanya prakiraan cuaca ekstrem sehingga bisa terhindar dari gagal panen. Contoh lainnya, nelayan terinformasikan adanya badai tropis supaya dapat antisipasi bencana dan meningkatkan produktivitas. Layanan ini bermanfaat bukan semata untuk peringatan dini tetapi juga untuk memajukan kesejahteraan umum.

Core business BMKG adalah memberikan layanan (services) informasi MKG berbasis sains, berbasis data, dan menggunakan teknologi tinggi. Pengembangan bidang sains dan teknologi diperlukan untuk meningkatkan kemampuan deteksi dini cuaca ekstrem, iklim ekstrem, gelombang laut berbahaya, dan tsunami.

Kondisi Indonesia secara geografis menyebabkan ada potensi tinggi terjadinya cuaca ekstrem, iklim ekstrem, gelombang laut berbahaya, kejadian gempa bumi, dan potensi tsunami yang merupakan ancaman (threat). Namun, di dalam threat tersebut ada opportunity karena dengan banyak kejadian ekstrem artinya banyak kejadian yang data-datanya dapat digunakan untuk penelitian, banyak kasus yang dapat digunakan untuk uji reliabilitas alat operasional yang sedang dikembangkan.

User Layanan Informasi BMKG

Layanan informasi BMKG, sebagaimana tertuang dalam UU MKG No. 31 Tahun 2009 digunakan oleh berbagai sektor diantaranya:

  • Kesehatan,
  • Konstruksi,
  • Energi dan Pertambangan,
  • Pariwisata,
  • Pertanian dan Kehutanan,
  • Tata Ruang,
  • Industri,
  • Transportasi,
  • Pertahanan dan Keamanan,
  • Sumber Daya Air,
  • Penanggulangan Bencana, dan
  • Kelautan dan Perikanan.

Dari semua sektor yang disebutkan di atas, masih terdapat jarak antara BMKG dengan sektor-sektor yang sebenarnya informasi MKG penting untuk bahan pertimbangan dan data dukungan operasi. Misal: di bidang geofisika data-data MKG berguna dalam operasi pemboran lepas pantai, operasi survei seismik laut, operasi survei elektromagnetik, dll.). Ketidaktahuan pelaku usaha terkait layanan-layanan apa saja yang dapat diberikan oleh BMKG merupakan tanda masih adanya gap komunikasi. Dengan demikian perlu dikenalkan lebih mendalam terkait services apa saja yang ditawarkan oleh BMKG baik ke swasta, masyarakat, atau sesama organisasi di dalam pemerintah, bahwa BMKG tidak “melulu” hujan deras, banjir, kemarau, kabut asap, gempa, dan tsunami.

Sumber Daya BMKG dan Kemandirian Bangsa

Sumber daya berupa sistem observasi perlu dikembangkan lebih lanjut. Inovasi-inovasi dalam negeri perlu dikuatkan dan didukung pemanfaatannya untuk meningkatkan kemandirian bangsa. Kerja sama dengan organisasi riset dan perguruan tinggi perlu diperkuat dan harus ada hasil nyata yang selanjutnya juga diterapkan di BMKG sehingga tidak hanya berhenti menjadi publikasi ilmiah tapi juga berdampak langsung untuk operasional BMKG, berdampak langsung ke masyarakat. Saat ini masih banyak perangkat operasional di BMKG yang impor dari luar negeri, yang artinya ketergantungan kita dengan teknologi siap pakai yang berasal dari luar negeri sangat tinggi.

Sumber daya yang berupa manusia (SDM) pun perlu ditingkatkan. SDM yang malas beradaptasi, malas belajar teknologi dan ilmu-ilmu baru akan tergilas dengan perkembangan jaman. Perkembangan pengetahuan, teknologi, dan tata kerja saat ini bergerak sangat cepat. Untuk mengikuti kuncinya adalah beradaptasi dan terus belajar.

Transformasi Organisasi BMKG

Sistem kerja tradisional yang birokratif perlu diubah menjadi sistem kerja kolaboratif dan dinamis. Pemimpin memiliki level setara dengan staf di dalam tim satuan kerja khusus (task force). Sistem kerja kolaboratif dan dinamis memiliki fleksibilitas lebih tinggi. Sekat-sekat dan ego sektoral perlu dihilangkan dan kerja sama antar bidang, misal meteorologi dengan geofisika atau klimatologi dengan geofisika dan instrumentasi perlu diinisiasi dan dikuatkan. Kebiasaan bekerja dengan malas dan menunggu perintah (silo-silo, red.) perlu diubah. Dengan adanya sistem kerja kolaboratif, BMKG lebih gesit menghadapi tantangan-tantangan dengan perubahan yang sangat cepat dan dinamis.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Situs ini menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda dalam menelusuri situs ini. Kami akan menganggap Anda setuju dengan ini, tetapi Anda dapat memilih meninggalkan halaman ini jika tidak setuju. SetujuBaca Selengkapnya

%d bloggers like this: