Mengisi Baterai HP Saat Perjalanan Tidak Disarankan

Arus Terlalu Lemah

Barangkali ada yang mengeluh karena mengisi baterai menggunakan port USB media player di mobil terasa lambat. Hal ini terjadi karena salah satunya adalah arus dari port USB di mobil terlalu lemah. Biasanya, port USB pada media player mobil dibatasi maksimal arus yang dapat dilewatkan 500mA atau 800mA. Apabila terus menerus digunakan untuk mengisi baterai HP (kebanyakan HP saat ini menggunakan standar arus 1000mA atau 2100mA) masa pakai komponen internal pada media player akan berkurang, lebih cepat aus.

Arus Terlalu Kuat

Ada juga yang mengeluhkan HP menjadi panas saat mengisi baterai di mobil menggunakan lighter charger. Ini karena beberapa lighter charger pada mobil mampu mengalirkan arus hingga 10A, sementara kebutuhan untuk mengisi baterai HP hanya 1000mA atau 2100mA. Kelebihan arus ini menyebabkan regulator arus pada HP harus bekerja ekstra untuk membendung arus 10A supaya yang masuk cukup 1000mA, 2100mA atau sesuai dengan spesifikasi sistem pengisian daya pada HP.

Tegangan Tidak Stabil

Tegangan tidak stabil ini biasanya terjadi pada kendaraan yang daya listriknya bersumber langsung dari hasil konversi putaran mesin. Artinya tegangan dan daya yang dihasilkan berubah-ubah mengikuti kecepatan putar mesin. Pada saat putaran mesin tinggi, tentu tidak ada masalah dengan tegangan karena sudah ada system pembatas supaya output dari generator maksimal tidak melebihi tegangan tertentu (12V misalnya). Tetapi dalam beberapa beberapa kasus, putaran mesin rendah menyebabkan tegangan yang dihasilkan kurang dari itu. Tegangan dan arus yang tidak stabil ini yang berpotensi merusak sistem pengisian daya baterai HP.

Boros Daya Aki

Saat mesin kendaraan dalam posisi mati, beberapa jenis kendaraan tetap menyediakan listrik untuk menyalakan lampu, menyalakan music, dan ada beberapa untuk pengisian daya baterai melalui USB port. Listrik untuk semua itu disuplay dari aki. Artinya dalam kondisi mesin mati, daya aki terpakai untuk semua aktifitas tersebut, termasuk mengisi daya HP. Akibatnya daya pada aki lebih cepat habis, lebih boros.

Menghindari HOAX di Grup WhatsApp dan BBM

WhatsApp, BBM, Line, dan Telegram menduduki empat teratas dari aplikasi chatting terpopuler di Indonesia. Barangkali siapapun pengguna smartphone di Indonesia pasti didalamnya ada aplikasi tersebut, sedikitnya satu aplikasi diantara empat tersebut. Empat aplikasi tersebut semuanya menyediakan fitur chatting dalam bentuk grup (group chat) dan mengirim pesan ke banyak orang (broadcast). Seperti halnya media sosial semacam Facebook, group chatting pun juga rentan menjadi medium persebaran informasi HOAX. Selaku pengguna medium informasi, sudah sepatutnya menjadi pengguna yang cerdas dalam menerima informasi.

Barangkali, pernah suatu ketika Anda mendapatkan broadcast atau dalam group chat WA salah satu teman anda memposting tulisan yang pada kemudian hari Anda mendapati bahwa tulisan tersebut adalah kabar bohong, HOAX. Atau barangkali lebih parah lagi Anda dengan serta merta telah turut meneruskan (forward), copy paste kabar tersebut ke grup chat WA lain atau broadcast BBM ke teman anda yang lain. Betapa malunya ketika Anda kedapatan menjadi agen penyebar HOAX, meski tidak disengaja.

Nah, bagaimana sih supaya Kita (Anda dan Saya), lebih cerdas dan tidak dengan mudah terpancing menjadi agen penyebar HOAX?

Kendalikan Nafsu Berbagi

Barangkali pernah Anda mendapatkan suatu informasi yang membuat senang atau sangat setuju dengan konten informasi itu sehingga anda sangat ingin membagikannya kepada orang-orang dekat atau rekan sejawat Anda. Atau, pernah lain  waktu anda mendapati informasi yang membuat anda khawatir terhadap keluarga dan teman-teman Anda sehingga dengan serta merta Anda forward informasi tersebut ke keluarga atau teman dengan maksud supaya mereka lebih berhati-hati. Apabila mendapati informasi yang demikian: TAHAN. Baca kembali dua atau tiga kali, kemudian tarik nafas sejenak dan jauhkan jemari dari HP supaya emosi pada diri Anda yang fluktuatif itu menjadi relatif lebih stabil.

Curiga Itu Perlu

Betul, curiga itu perlu pada waktu dan kondisi yang tepat. Termasuk saat mendapati informasi, apapun. Saya selalu curiga terhadap informasi yang ‘too good to be true’ atau ‘too bad to be true’, intinya informasi yang berlebihan seandainya itu sesuatu yang terlalu baik atau terlalu buruk patut dicurigai kebenarannya. Selain itu saya dengan mudah mencurigai sesuatu yang tidak runtut secara kronologis, gagal logika, atau tidak sinkron. Misal tentang Habib X di Jakarta dia tiap hari Jumat menjelang jam 11 selalu masuk kamar dan keluar lagi pukul 1 siang, untuk sholat Jumat di Madinah. Nah, kejanggalannya ada pada perbedaan zona waktu. Saat di Jakarta pukul 11 siang itu di Madinah baru pukul berapa? Atau cerita lain, Prof. Dr. X, MT. peneliti dari BATAN menemukan bahwa bakteri ABC pada makanan DEF bisa menyebabkan pengerasan otak. Meski bisa saja benar, tetapi agak kurang sinkron (meski bisa saja) ada peneliti BATAN -yang ngurusi tenaga nuklir- itu dengan sangat selo meneliti bakteri pada makanan sampai pada efek-efeknya, apalagi disertai dengan istilah-istilah yang barangkali sangat asing. Jadi informasi yang TERLALU seandainya itu benar, NGGAK SINKRON, itu patut dicurigai.

Cari Informasi, Buat Kesimpulan

Begitu menerima informasi, cari informasi yang serupa. Maksudnya, mencari informasi tandingan apakah informasi yang Anda dapatkan itu benar, apakah informasi yang Anda terima itu bukan kabar bohong, HOAX. Baca tulisan-tulisan di media mainstream, media yang sudah jelas redakturnya, alamatnya. Paling tidak, dengan menggunakan informasi dari media yang sudah jelas redakturnya, jelas alamatnya, Anda lebih punya keyakinan dibandingkan dengan media yang tidak jelas, anonim. Kalau tidak menemukan yang berkaitan, coba cari satu-persatu berdasarkan kata kunci. Misal nama orang, nama bakteri, atau kata kunci dalam informasi yang Anda terima. Rangkai masing-masing informasi tersebut, dan buat kesimpulan apakah informasi kecil-kecil yang Anda kumpulkan itu sinkron dan bisa saling terkait. Cari sebanyak-banyaknya informasi sampai anda yakin mengenai nilai kebenaran informasi yang Anda terima, apakah informasi itu BENAR atau SALAH.

Bagi Atau Koreksi

Anda sudah yakin atas nilai kebenaran informasi yang Anda terima, tanyakan kembali pada diri Anda. Apa manfaatnya? Apa tidak menyakiti orang lain? Apa tidak menjelekkan pribadi orang lain? Apa ada potensi menimbulkan perselisihan? Apa informasi tidak mengandung unsur SARA? Kalau Anda yakin informasi itu BENAR, ‘AMAN’, dan BERMANFAAT anda bisa membagikannya kalau masih ingin membagikannya.

Bagaimana jika sebaliknya? Cukup berhenti sampai pada Anda, yakini bahwa informasi itu salah dan tidak baik untuk dibagikan. Sampaikan hasil penelusuran Anda kepada sumber informasi, sampaikan di dalam grup hasil penelusuran Anda supaya informasi HOAX tersebut terkoreksi. Apabila Anda terlanjur menyebarkan informasi HOAX tersebut, segera minta maaf dan sertakan hasil penelusuran Anda supaya informasi HOAX yang kelewat Anda sebarkan juga terkoreksi.

Dengan melakukan langkah terakhir, koreksi informasi HOAX, Anda telah turut andil dalam hajat besar MEMERANGI HOAX.

Pokoknya jangan SARA dan SARU! #eh

*Ngomong-ngomong, cara ini juga bisa diterapkan di Facebook, Twitter, Path, atau semacamnya juga lho.

Ngeblog, Kesekian Kalinya

Saya tergelitik untuk menulis ini setelah membaca catatan Pak Sawali dan Mas Nanang soal ngeblog dan kopdar.

Saya termasuk blogger yang mengalami masa keemasan blogging di Indonesia yang kira-kira terjadi sekitar tahun 2008-2010. Meski dalam kenyataan selalu ada pasang-surut soal komsistensi saya dalam menghadirkan tulisan di blog, saya tetap menyukai blogging sebagai platform yang bebas dan relatif lebih tenang jika dibandingkan jejaring sosial OTT semacam facebook atau twitter. Melalui kebebasan menuangkan tulisan, saya merasa lebih bisa tenang untuk mengungkapkan pandangan di blog. Saya terbebas dari kekhawatiran pergumulan debat panas nan emosional seperti yang saya (mungkin juga anda) sering lihat di facebook.

Blog memang menyediakan kolom untuk siapa saja berkomentar. Tetapi tidak selalu orang ‘selo’ untuk menulis komentar pada sebuah tulisan blog, karena tidak semudah komentar di facebook. Pengguna facebook merasa punya ‘keyakinan’ komentarnya akan dibaca/didengarkan oleh siapa saja temannya yang aktif di jejaringnya. Berbeda dengan blog, orang yang berkomentar biasanya karena memang ingin berpendapat mengutarakan sesuatu dan tidak terlalu berharap banyak akan dibaca orang lain. Paling tidak ditanggapi penulis pun sudah senang bukan kepalang, meski sebatas ucapan terimakasih telah berkunjung.

Saya memang akhir-akhir ini jarang menulis di blog, tetapi sebenarnya saya jauh lebih jarang nyetatus (update status) di facebook atau ngetweet (update tweet) di twitter. Blog masih menjadi tempat yang nyaman untuk menuangkan pemikiran tanpa menimbulkan banyak konfrontasi, tidak seperti di facebook yang lebih mirip agregasi status dari teman beserta agregasi komentar-komentar siapa saja langsung melihat hampir secara realtime.

Jika kamu lelah dengan perdebatan di facebook, berbicaralah dengan orang di dunia nyata.

Belum tahu siapa yang bilang begitu? Dia adalah Barrack Obama dalam pidato penutupannya sebagai Presiden Amerika Serikat. Berarti, masih sangat fresh dan baru kemarin kan? Ya, ungkapan itu memang baru kemarin dilontarkan. Pak Barrack Obama, yang seorang presiden selama dua periode lalu pun menyadari betapa pentingnya kopdar untuk merelaksasi otak yang kelelahan berdebat online.

Pak Sawali dan Mas Nanang melalui tulisannya melepaskan uneg-uneg mengenai surutnya acara kopdar sejati, kopdar seperti masa-masa kejayaan ngeblog tahun 2008-2010. Bahkan Pak Sawali mengungkapkan meski banyak bermunculan blog-blog baru, tetapi nyawa blognya bukan seperti nyawa blogger pada masa 2008-2010 lalu.

Mungkin kalau memang diantara kita bosan membaca feed di facebook yang sering panas dan melelahkan, sudah saatnya kita menyapa blog milik kita, saling berkunjung dan meninggalkan jejak di blog teman kita. Mungkin kalau memang diantara kita sudah lelah dengan perdebatan di facebook, sudah saatnya kita kopdar.

Pembawa Janji Kegembiraan

Sewaktu saya masih SD puluhan tahun silam, setiap pagi saya bersama teman-teman menanti Pak Giman di halaman sekolah. Kebetulan halaman sekolah kami berada tepat di pinggir jalan utama Candimulyo-Tegalrejo. Ya, saya sekolah di SD Negeri 1 Candimulyo.

Pak Giman, beliau bukanlah guru di sekolah kami. Beliau supir angkutan umum rute Candimulyo-Tegalrejo-Pirikan-Pucang-Secang. Angkutan umum warna biru tua dengan corak garis hitam di bagian bawah itu yang kami nanti setiap pagi. Selama Pak Giman belum melintas depan sekolah, kami masih menanti. Bahkan ketika sudah di dalam kelas pun kami tidak akan bisa berkonsentrasi belajar hanya demi menanti Pak Giman lewat depan sekolah kami. Setiap beberapa saat kami melihat ke arah luar jendela kelas untuk memastikan Pak Giman sudah lewat atau belum.

Setiap kali Pak Giman lewat depan sekolah, kami bersorak di halaman sekolah, “Pak Gimaaaaaaannnnn.” Pak Giman tidak pernah menjawab sorakan kami, kecuali hanya dengan bunyi klakson angkutan umumnya berkali-kali. Kami girang dan gembira bukan kepalang seiring bunyi klakson yang bertalu-talu meski hanya suara monoton. Setelah itu kami baru bisa berkonsentrasi belajar di dalam kelas.

Namun, menjelang kelas lima lambat laun kami semakin jarang melihat Pak Giman lewat depan sekolah. Kegembiraan pagi kami berubah menjadi penantian panjang. Kegembiraan pagi kami terenggut setelah angkutan umum untuk rute yang lewat depan sekolah kami tidak beroperasi lagi.

Salam kangen kagem Pak Giman.

“Om telolet Om”

Image Credit:
Bus Ramayana dari Galeri Bus.
Ilustrasi Angkot Biru dari I Love Sukabumi.

Buku!

Hari kemarin istriku membawa pulang kado atas pernikahan kami dari seorang yang kami anggap kakak. Kupikir, begitu pula bagi teman-teman kuliah kami pun juga menganggap beliau sudah seperti kakak (minimal kakak tingkat lah). Semasa kuliah, kami tidak pernah seruangan kuliah dengan beliau karena saat kami masuk kuliah, beliau sudah menyelesaikan studinya lebih dulu. Tapi beliau memang orang yang semanak dan ngemong adik-adiknya, jadilah hampir semua angkatan muda di program studi kami mengenalnya atau paling tidak bergetarlah hatinya ketika namanya disebut.

Setelah kubuka rupanya hadiah itu isinya buku yang dari judulnya sejenis dengan koleksi-koleksi buku ayahku di rumah. Aku malu, sudah cukup lama aku tidak membaca buku yang demikian. Bahkan seingatku, terakhir kali membaca buku yang demikian saat setelah menyelesaikan studi di Yogyakarta sekira hampir empat tahun silam. Sepertinya beliau paham, aku sudah diambang mlipir.

Aku bersyukur kepada Tuhan, masih banyak orang selain orangtua dan istri yang mau pasang pagar untukku yang sudah di ambang ke-mlipir-an. Semoga Tuhan selalu melimpahkan kasih sayang-Nya kepada beliau dan keluarga.

Becak, Go-Jek, Go-Car di Jogjakarta

Sore itu saya ada keperluan mengangkut beberapa foto pernikahan saya dengan dik Data, hanya empat foto berukuran besar beserta bingkainya. Saya datang ke rumah fotografer pernikahan saya mengendarai sepeda motor. Sedianya mau saya angkut dengan sepeda motor saja, tapi ternyata ukuran foto dan bingkainya terlalu besar kalau diangkut dengan sepeda motor. Saya dan dik Data memutuskan untuk menggunakan jasa transportasi berbasis online, Go-Car. Dalam percakapan dengan pengemudi melalui telepon sebelum penjemputan, pertanyaan pertama dari pengemudi adalah jumlah penumpang.

Rekam Perjalanan Menggunakan Go-Car di Jogja
Rekam Perjalanan Menggunakan Go-Car di Jogja

Lain waktu, saya juga ada keperluan pulang selepas acara resepsi pernikahan di Wisma KAGAMA menuju rumah mertua di daerah sekitar Sleman. Lantaran sudah dalam kondisi lelah, saya dan dik Data memilih menggunakan layanan Go-Car lagi supaya tidak perlu jalan kaki terlalu jauh. Percakapan dengan pengemudi sebelum penjemputan pun diawali dengan pertanyaan jumlah penumpang.

Beberapa kali saya pesan pun juga demikian. Saya bahkan mengira bahwa kebanyakan orang di Jogja pesen Go-Car untuk keperluan rombongan yang terdiri dari banyak orang. Bisa juga pengemudi ogah-ogahan ngambil orderan yang banyak orang begituan. Suatu waktu didasari rasa penasaran yang tinggi karena sudah kejadian berulang-ulang, saya dalam perjalanan menggunakan Go-Car pada suatu pemberhentian lampu merah perempatan gejayan yang luamaaaaa ngaudubilah, saya bertanya ke pengemudi,

“Pak, di Jogja banyak juga pak pengguna layanan Go-Car? Kalau di Jakarta itu banyak pengemudi bilang orderan ga pernah berhenti.”
“Ya sama Mas, di Jogja juga gitu. Tapi kita kalau mau ambil juga pilih-pilih. Saya kalau orderan dibawah 30 ribu nggak saya ambil.”

“Lho kenapa pak?”
“Ya kalau dibawah 30 ribu itu kan biasanya untuk jarak deket. Itu juga kalau ada diatas 30 ribu saya juga tanya berapa penumpang. Kalau hanya satu penumpang dan bawaan dikit ya saya saranin naik Go-Jek aja. Makanya tadi saya nanya dulu penumpangnya berapa orang.”

“Kalau di Jakarta sih mau berapa aja juga diambil pak. Yang penting nggak nombok operasional aja.”
“Perhitungan operasional juga kayak misal jemputnya jauh gitu kan mending nggak diambil. Ya, kalau gini kan kita juga bagi-bagi segmennya Mas. Jadi nggak ada rebutan. Kalau jarak jauh diatas 30 ribu banyak orang apa banyak bawaan ya pake taxi atau Go-Car. Kalau yang cuma satu orang dan agak jauh kita saranin pake tukang ojek apa Go-Jek. Yang deket-deket sekilo dua kilo biar becak yang ngambil. Gitu kan jadi fair mas. Sama-sama enak.”

“Itu emang kesepakatan atau gimana, Pak?”
“Ya nggak ada mas. Cuma dari mulut ke mulut aja. Ya kesadaran masing-masing aja lah mas. Kan nggak baik juga kethoho (serakah). Sesama yang biasa di jalan udah tau lah yang begituan mas di sekitar sini.”

Astagfirullah, selama ini saya sudah berprasangka buruk pada pengemudi-pengemudi yang dalam pembicaraan di telepon selalu menanyakan jumlah penumpang terlebih dahulu.

Lain kejadian, kawan saya suatu pagi tiba di stasiun Tugu dan memesan layanan Go-Jek untuk tujuan Kilometer Nol (Kantor Pos). Beberapa kali order tetapi tidak ada pengemudi Go-Jek yang ambil meski banyak mitra pengemudi Go-Jek di sekitar stasiun Tugu. Sekalinya ada yang ambil ordernya, pengemudi menghubungi kawan saya itu dan menyarankan untuk naik becak saja kalau cuma untuk jarak dekat. Kawan saya nggrundel, “mau dapet rejeki kok ditolak, sombong amat tukang ojek di sini.”

Yah begitulah. Tanpa menyelidiki latar belakangnya, seringkali menungso lebih mudah mengungkapkan sisi kekurangan menungso lain dan disesaki oleh prasangka buruk.

Ternyata dari beberapa contoh tadi mungkin ada benarnya apa yang diungkapkan pak pengemudi. Bisa jadi itu juga yang mendasari kenapa jarang ada percekcokan antara yang online dan offline di Jogja.

Semoga yang demikian bisa menjadi pembelajaran bagi saya supaya lebih berhati-hati dalam berprasangka tanpa didasari informasi lengkap. Menyegerakan diri mencari informasi lebih lengkap dan benar saat mulai berprasangka buruk.

Apa Saja Bisa Ditulis

Sore tadi saya menggunakan layanan transportasi Uber sekira pukul 17.30. Tak lama berselang saya mendapatkan notifikasi via email bahwa perjalanan saya hanya dikenakan charge Rp19,00 (sembilan belas rupiah) karena saya menggunakan bonus free ride, kalau aslinya sih sekitar Rp40.519,00. Sekitar pulul 20.45 saya mendapatkan notifikasi email bahwa saya mendapatkan free ride lagi Rp30.000,00 dari kode promo UBERGETREVENUE yang pernah saya tuliskan dan saya bahas melalui blog. Saya kembali menggunakan layanan tersebut 15 menit kemudian dan tagihan saya sebesar Rp421,00 dari yang sebenarnya Rp65.921,00, tentu saja setelah dikurangi dari bonus free ride (lagi). Kira-kira berselang 30 menit kemudian (pukul 21.30) saya mendapatkan notifikasi bahwa saya mendapatkan free ride lagi Rp30.000,00. Lagi, dari apa yang pernah saya tuliskan di blog.

Akhir-akhir ini saya lebih sering menggunakan layanan Uber karena free ride yang saya dapatkan kebanyakan akan habis masa berlakunya akhir agustus ini, meski sebenarnya masih ada juga yang berlaku sampai bulan November mendatang.

Tumpangan Gratis dari UBER
Tumpangan Gratis dari UBER

Tadinya saya nulis kode promo free ride di blog hanya iseng, bagaimanapun saya juga tidak rugi kalaupun nantinya tidak ada yang menggunakan kode UBERGETREVENUE, toh itu hanya tulisan ala kadarnya. Bahkan, tulisan tersebut bukan lagi berada di blog utama saya tetapi ada di blog yang hanya berisi arsip dan tidak akan pernah saya update dengan tulisan baru.

Hal remeh apa saja bisa ditulis dan bisa jadi suatu ketika entah penulis maupun pembaca akan mendapatkan manfaat.

Selamat menulis.

Oh ya, ini tulisan yang saya maksud: Kode Promo Uber, Free Rp75.000,00.

Kelas Inspirasi Bojonegoro #4

Sebagai seorang profesional, seorang geoscientist yang kesehariannya bekerja di bidang eksplorasi energi tentu saya tidak asing dengan istilah-istilah yang ada dalam dunia eksplorasi. Banyak terms teknis yang hanya dimengerti oleh mereka yang memang berkecimpung di dalamnya. Seorang ahli ilmu bumi pasti sangat memahami bagaimana sesuatu bekerja sejak dari tahapan awal eksplorasi sampai produksi, atau bahkan sampai distribusi energi. Presentasi, memberikan penjelasan, dan diskusi dengan sesama profesional sudah sering dilakukan. Ini bukan lagi menjadi hal yang menyebabkan gemetar dan salah tingkah karena sudah terbiasa, meski dalam “kebiasaan” itu selalu menghadirkan pengetahuan-pengetahuan baru.

Memberikan penjelasan kepada anak seusia sekolah dasar menjadi momen yang tentu saja bukan suatu kebiasaan. Itulah yang terjadi pada saya saat Hari Inspirasi di Bojonegoro tanggal 2 Mei 2016 yang lalu. Semua kejadian merupakan pengalaman pertama bagi saya. Saya mengajar sekaligus belajar banyak hal meski hanya sehari, bahkan hanya beberapa jam di SD Negeri Napis 4, Kabupaten Bojonegoro.

Sebelum Hari Inspirasi itu tiba, jauh-jauh hari saya sudah melakukan persiapan. Ayah saya dulunya seorang guru sekolah dasar yang mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan para tunas muda. Saya masih ingat betul setiap sore beliau selalu mempersiapkan bahan untuk mengajar hari esok, bahkan kadang sampai menjelang tengah malam. Saya harus melakukan hal yang sama, mengajar pun butuh persiapan dan butuh komitmen meski hanya sehari. Beberapa alat bantu mengajar sudah kupersiapkan beberapa hari sebelum hari itu tiba.

Rombongan belajar terdiri dari 20 relawan dan enam diantaranya adalah relawan pengajar, termasuk saya. Kami tiba di lokasi SD Negeri Napis 4 sehari sebelum Hari Inspirasi dengan menempuh perjalanan sekitar tiga jam dari ibukota Kabupaten Bojonegoro. Setibanya sore hari setelah dilakukan pertemuan singkat saya berkeliling ke sekitar memasuki dan mengamati kelas demi kelas seiring senja yang semakin gelap. Kusimpulkan, alat bantu yang saya persiapkan beberapa diantaranya tidak akan dapat digunakan. Saya memahami bahwa masih ada sekolah-sekolah yang kondisi fasilitasnya memerlukan perlakuan khusus, tetapi saya tak mengira bahwa hal ini juga ada di Kabupaten Bojonegoro.

Malam hari sembari bercengkerama bercanda dengan teman relawan lain saya berpikir supaya dengan alat bantu yang masih bisa digunakan pesan yang ingin saya sampaikan tetap bisa diterima dengan baik. Bagusnya, tiga dari enam relawan pengajar dalam rombongan belajar sudah pernah menjadi relawan pengajar di Kelas Inspirasi sebelumnya. Malam itu juga saya belajar dari pengalaman-pengalaman relawan pengajar lain.

Pagi di Hari Inspirasi, 2 Mei 2016. Pagi itu mentari menghadirkan senyum dan cuaca sangat cerah. Secerah harapan yang ada pada setiap relawan bahwa setelah hari itu akan ada tunas-tunas muda dari SD Negeri Napis 4 yang punya mimpi dan siap diraih. Sebelum kegiatan dimulai, saya berkenalan dan berdiskusi dengan bapak-ibu guru sekolah. Darinya terpancar semangat, kesabaran, konsistensi, dan komitmen luar biasa untuk mendidik tunas-tunas muda. Berbagai pengalaman mengajar di sekolah yang jauh dari ibukota dan jarak tempuh berkilo-kilometer menjadi bagian yang membuat saya kagum dengan kegigihan mereka. Pagi itu kegiatan dimulai dengan upacara bendera. Upacara bendera peringatan Hari Pendidikan Nasional pagi itu adalah upacara yang saya ikuti untuk kedua kalinya di tahun 2016, upacara bendera sebelumnya saat Syukuran Lima Tahun Indonesia Mengajar, 31 Januari lalu. Rasa haru kembali muncul meski tak sampai menitikkan air mata saat lagu kebangsaan Indonesia Raya kami nyanyikan di halaman sekolah. Sebuah halaman sekolah sederhana yang pada saat itu tengah berlangsung upacara bendera, juga diselenggarakan dengan sederhana.

Pada sesi pertama saya bersama Kak Esi –seorang analis hukum kelautan– masuk di ruang kelas yang berisi siswa kelas satu dan kelas dua. Sejak awal ruang kelas ini memang digabung dalam kegiatan belajar-mengajar sehari-hari. Saya diberi waktu 30 menit menguasai kelas, lima belas menit pertama berjalan tanpa masalah. Sampai pada menit ke-20 suasana mulai tak terkendali, saya pikir lima menit yang tersisa akan menjadi lima menit yang menyiksa karena saya mulai kehabisan cara. Baiknya, ada relawan fasilitator yang turut membantu saya untuk tetap menguasai kelas sembari menyampaikan pesan.

peta-indonesia-kelas

Dalam dua sesi berikutnya saya tidak terlalu kesulitan karena sudah belajar dari sesi sebelumnya. Peta Indonesia, segmen kotak-kotak lantai sekolah, dan papan di depan adalah andalan saya dalam menceritakan dan menyampaikan pesan. Cerita mengenai pekerjaan seorang ahli ilmu bumi melakukan pengamatan terhadap gunung api, gempa dan tanah longsor, mitigasi bencana, eksplorasi energi dan mineral pun bisa saya sampaikan dengan bahasa yang sederhana termasuk bagaimana proses seseorang bisa menjadi geoscientist. Dalam setiap sesi yang tersisa, saya dan Kak Esi selalu menutup dengan menggambarkan betapa Indonesia ini masih memiliki potensi sumber daya alam besar yang suatu saat akan sebanyak mungkin dikelola oleh bangsanya sendiri untuk kemaslahatan bangsanya sendiri, bangsa Indonesia.

Perjalanan berjam-jam dan rasa lelah selama menempuh perjalanan terbayar sudah meski baru setengah. Setengahnya lagi, melihat mimpi-mimpi tunas muda yang terwujud pada masa yang akan datang. Selepas hari itu, saya menginginkan lebih. Lebih banyak lagi turut terlibat lebih dalam, wujudkan lebih banyak mimpi anak Indonesia. Pada merekalah kita kenalkan cara kita mencintai, meraih mimpi, dan cita-cita besar bernama Indonesia.

Photograph by: WokArt Photography

Etika di WhatsApp Group

Barangkali hampir semua pengguna gawai canggih memiliki akun WhatsApp. Untuk menjalin komunikasi, Itu jelas. Pernahkah anda merasa terganggu karena notifikasi yang tang-ting-tung hampir setiap saat dari group WhatsApp yang anda buat atau anda ikuti? Berapa sih jumlah group yang anda ikuti di WhatsApp? Nah, bagaimana supaya merasa tidak terganggu dan tidak mengganggu sesame “penghuni” group?

Merasa terganggu pasti pernah lah ya. Aku juga termasuk orang yang kadang dalam saat-saat tertentu merasa terganggu karena saking rame-nya group WhatsApp. Yah, meski sebenernya aku hanya masuk di 12 group WhatsApp. Dari 12 group itu, dua diantaranya aku menjadi admin group dan 10 group lainnya diluar penguasaanku.

Perlakuan paling gampang dan hampir tidak membawa efek kurang baik ketika merasa terganggu dengan ramenya group WhatsApp adalah dengan MUTE. Ya, matikan notifikasi untuk group-group tertentu. Apabila masih kurang nyaman, tak ada salahnya keluar dari group. Sungkan? Ya tentu perasaan itu akan ada. Tapi keluarlah baik-baik, jangan meninggalkan jejak buruk di dalam group. Jadilah anggota group yang baik. Aku memiliki beberapa “aturan” untuk diriku sendiri ketika ada di dalam sebuah group.

Kenali seisi anggota group

Perlahan, kenali satu persatu anggota group sampai pada tingkatan karakternya. Jangan sungkan untuk menjadi anggota group pasif (silent reader) terlebih dahulu. Tak semua orang bisa diajak bercanda sampai level tertentu, terlebih kadang ada perbedaan umur yang signifikan antar anggotanya menyebabkan level guyonan juga berbeda. Mungkin bagi kebanyakan anggota group guyonan pada level tertentu adalah biasa, tapi bisa jadi ada sedikit anggota group yang menganggap guyonan itu sudah kelewatan dan melanggar marwah (pakai bahasa setil-nya anggota dewan).

Hargai privasi orang lain

Memposting foto orang lain yang memalukan di group adalah tindakan tidak terpuji. Jadi hindari memposting gambar atau capture status orang lain yang dirasa memalukan atau mengganggu privasi di group, terlebih orang tersebut ada di dalam group yang sama. Setiap individu di dalam group akan terusik ketika dilanggar privasinya. Paling tidak, jangan sampai benar-benar terekspos identitas yang ada di dalam gambar kalau memang hanya untuk sekedar joke. Gampangnya aplikasi WhatsApp yang bisa copy-paste atau forward membuat persebaran konten menjadi tak terkendali. Kita tak pernah tahu kemana saja konten yang kita post di WhatsApp tersebar.

Hargai waktu berkualitas orang lain

Maksudku tentu saja ada momen-momen tertentu yang orang lain mengharapkan ketenangan, sebut saja waktu beristirahat malam. Perkirakan saja zona waktu dari kebanyakan anggota group. Buat batasan kira-kira pukul berapa kebanyakan orang istirahat tidur malam. Aku mengusahakan untuk tidak posting di group antara pukul 22.00 sampai dengan pukul 08.00. Beberapa group yang kuikuti berisi orang-orang lintas zona waktu. Ada yang ketika ditempatku sudah menjelang siang, di tempat lain masih malam dinihari. Ambil saja mayoritas orang yang ada di group ada di zonasi waktu yang mana.

Posting sesuai tema

Beberapa group WhatsApp dibuat untuk tujuan tertentu atau tema tertentu. Misal group teman-teman SMA, teman-teman Kuliah, group Komunitas Blogger, group untuk persiapan acara tertentu, dan masih banyak lagi. Usahakan apa yang dibicarakan sesuai dengan tema atau tujuan tersebut. Kalaupun ada joke atau candaan, jangan sampai mendominasi konten sehingga mengurangi marwah group (halah… maneh). Jangan juga posting promosi produk kosmetik dan pembesar nganu di group yang bukan peruntukannya (#mdrcct).

Jangan sungkan untuk keluar dari group

Apabila memang sudah merasa terganggu, setiap anggota grup boleh saja keluar dari group. Keluarlah baik-baik, bisa jadi keluarnya njenengan dari group menjadi bahan introspeksi bagi seluruh anggota group mengenai “kenyamanan” di dalam group. Keluar dari group bukan berarti tidak menghargai orang yang telah mengundang atau seisi group.

Sementara ketika aku menjadi admin group, beberapa aturan yang aku pakai antara lain dalam hal mengundang seseorang untuk menjadi anggota group.

Usahakan mengundang secara personal terlebih dahulu

Ya benar, japri dulu baru kemudian benar-benar add to group. Sebenarnya aturan ini baru saja aku mulai. Kepikiran demikian karena kadang ketika aku masuk di grup tertentu aku tidak begitu mengenal satu persatu anggota grup sehingga harus kepo cek satu persatu foto profil, nomor ponsel, dan nama (opo maneh yen ayu banget). Nah, ternyata tak semua orang nyaman dikepoin dengan cara-cara demikian. Jadi sebelum memasukkan seseorang ke dalam group, tak ada salahnya berkomunikasi secara personal (japri) terlebih dahulu. Utarakan dan tanyakan kesediaannya untuk dimasukkan ke dalam group.

Tutup group yang sudah selesai manfaatnya

Ada beberapa group yang dibuat untuk tujuan penyelenggaraan atau keperluan tertentu. Setelah selesai, kadang group berlanjut menjadi ajang silaturahmi sesama anggotanya. Namun, ada juga group yang setelah selesai kemudian tidak aktif sampai berbulan-bulan. Group yang sudah tidak aktif ini yang aku sebut sebagai selesai manfaat. Sebagai admin, utarakan saja rencana penutupan group. Sebelum ditutup, pastikan tak ada lagi anggota group yang tersisa di dalamnya. Apabila group masih aktif tetapi isi percakapan atau tujuan group berbeda, jangan sungkan untuk mengubah nama group.

Terakhir, secara umum (tak hanya di dalam percakapan WhatsApp) selalu junjung tinggi norma-norma yang berlaku di masyarakat. Misal tidak posting yang menyentuh isu-isu negatif SARA, tidak menyinggung orang lain, tidak mempermalukan orang lain maupun diri sendiri, dan tidak mencemarkan nama baik.

Dua Hari di Bojonegoro

Jumat 15 April 2016, aku berkesempatan untuk pertamakalinya ke Bojonegoro dengan naik kereta api (pertama kali juga naik kereta jalur pantura). Tujuanku kali ini cukup sederhana, berkumpul dengan teman-teman Kelas Inspirasi Bojonegoro dalam rangka persiapan KI Bojonegoro yang ke-empat. Sengaja aku memilih Bojonegoro untuk turut berpartisipasi sebagai relawan pengajar di kelas inspirasi. Kebetulan juga, ini adalah kali pertama aku ikut Kelas Inspirasi Bojonegoro.

Aku memulai perjalanan dari Stasiun Pasar Senen pada hari Jumat tepat pukul 12.00 siang hari. Sedianya aku akan memilih perjalanan yang agak sore tetapi kupikir kasihan nanti teman di Bojonegoro kalau jemput tengah malam. Jadilah aku naik kereta api Jayabaya berangkat dari Stasiun Pasar Senen dan turun di Stasiun Bojonegoro sekira pukul 21.45 waktu setempat. Sampai di Bojonegoro aku langsung menghubungi Mas Rivaldy yang akan menjemputku di stasiun. Beberapa hari sebelumnya aku telah menghubungi Nova Wijaya untuk keperluan penjemputan sekaligus menginap selagi aku di Bojonegoro.

Selang beberapa waktu, aku sudah sampai di Rumah TIK Bojonegoro tempatku menginap kali ini. Sebagai informasi, Rumah TIK ini adalah pusat kegiatan dan sekretariat Relawan TIK Bojonegoro. Kebanyakan aktivis di tempat ini masih mahasiswa, beberapa ada pengusaha, dan lainnya pekerja. Karena sudah malam, kupikir kondisi selarut ini sudah cukup sepi tetapi ternyata masih ramai oleh aktifitas pemuda harapan bangsa asli Bojonegoro. Setelah berkenalan, obrolan diantara kami mulai mengalir yang mulai dari sekedar obrolan mengenai kabar masing-masing, menjalar ke aktifitas RTIK di kota masing-masing, berlanjut soal Kelas Inspirasi itu sendiri, sampai perihal aktifitas blogging. Kebetulan beberapa tahun silam komunitas blogger Bojonegoro seringkali bersinggungan (dalam arti positif) dengan komunitas blogger Magelang.

Menyoal blogging pun kisah pertemuan yang kami ceritakan mulai dari pertemuan konco-konco blogger di Wonosobo tahun 2009 sampai beberapa yang terakhir yaitu pertemuan di Bandung dalam rangka Festival RTIK. Kebetulan, kebanyakan aktivis RTIK di Bojonegoro juga dari teman-teman blogger begitupun juga teman-teman aktivis RTIK Magelang yang kebanyakan “lungsuran” blogger.

Berbicara mengenai inti dari kedatanganku ke Bojonegoro, tujuannya adalah mengikuti pertemuan pra-pelaksanaan Kelas Inspirasi Bojonegoro yang ke-empat.

Bagaimana bisa aku “kesasar” ke Bojonegoro sementara ada banyak juga Kelas Inspirasi lain semisal di Jakarta, Sukabumi, Lamongan, Karawang, dll? Pertanyaan itu juga yang sempat ditanyakan teman-teman di Bojonegoro.

Jawaban jujur, sakjane cuma pengen ketemu Mbak Nova Wijaya yang sempat hits dan bahkan sempat jadi trending topic berhari-hari di kalangan teman-teman RTIK Magelang beberapa waktu yang lalu. Terlebih lagi pasca beredar foto bareng artis oleh GusMul itu.

Jawaban slengekan, ya tentu saja sangat normatif. Mau memperkenalkan kira-kira kegiatan dan profesi apa saja yang dilakukan di industri hulu migas, mengingat Bojonegoro punya potensi yang tak sedikit di sektor ini. Paling tidak, aku berharap kedepan semakin banyak orang asli Bojonegoro yang turut berpartisipasi aktif (dan langsung) mengelola sumberdaya alam yang dimilikinya. Bukan tak mungkin kan suatu saat semua kegiatan sektor migas di Bojonegoro benar-benar dikuasai warga asli Bojonegoro?

Kembali mengenai kisah kedatanganku ke Bojonegoro.

Hari berikutnya, Sabtu 16 April 2016 aku berkumpul yang benar-benar berkumpul di Pendopo Malowopati dengan hampir semua aktivis Kelas Inspirasi dari mulai relawan fasilitator, dokumentator, dan pengajar. Ah ya, ini pertamakalinya aku ikut Kelas Inspirasi Bojonegoro. Hampir semua yang kutemui kali ini benar-benar wajah baru, Mbak Nova Wijaya pengecualian lho ya. Sebut saja briefing, banyak hal dibicarakan terkait persiapan Kelas Inspirasi. Hal-hal yang mengenai persiapan dan lain lain sepertinya tak perlu dibahas disini.

Brifing Relawan KI Bojonegoro #4
Brifing Relawan KI Bojonegoro #4 (foto oleh Mahrus)

Selepas kegiatan selesai, sekira pukul 13.00 aku segera meluncur ke tempat makan pecel (aku lupa namanya) kemudian dilanjutkan ke stasiun untuk membeli tiket kembali ke Jakarta. Setelah mendapatkan tiket kereta Kertajaya, aku kembali ke Rumah TIK. Sorenya aku sempat ikut makan bareng di tempat makan mie super pedes -katanya- (lupa lagi namanya). Sekembalinya ke Rumah TIK Bojonegoro, aku beristirahat sejenak sambil mendengarkan cerita-cerita ala remaja masa kini. Malamnya sekira pukul 22.00 aku berangkat menuju Stasiun Bojonegoro untuk selanjutnya kembali ke Jakarta dengan Kereta Kertajaya, kereta milik PT KAI bukan keretaku.