Pak Joko Widodo

Persepsi saya pada Pak Joko Widodo (Jokowi) yang paling saya ingat dan sangat membekas dalam pikiran saya berasal dari dua kali bertatap muka dengan beliau. Pertama, saat beliau masih menjadi Wali Kota Solo dalam sebuah pertemuan di Kota Solo. Kedua, saat beliau sudah menjadi Presiden Republik Indonesia dalam suatu ketidaksengajaan di Kebun Raya Bogor.

SOLO – 2010

Pertemuan pertama saya di Solo saat acara SOLO (Sharing Online Lan Offline) awal Juni 2010. Saya dan teman-teman Blogger Magelang diundang Pakdhe Blontank, beberapa hari menginap dan jalan-jalan di seputaran Solo untuk diperkenalkan beberapa hal menarik yang ada di Solo. Beliau -Pak Jokowi- meski tidak terlalu lama tetapi juga tak terlalu singkat, berbincang dengan para narablog. Saya selaku blogger kroco jelas tak punya kesempatan untuk berbincang langsung dengan beliau, apa lagi dalam durasi waktu yang lama. Meski hanya berjabat tangan, tapi saya ingat betul senyum beliau kepada setiap orang yang menjabat tangannya. Kejadian ini selalu saya ingat karena momen ini adalah pertama kalinya bagi saya berjabat tangan dengan pejabat publik setingkat Bupati/ Wali Kota (maklum saya ini cah ndeso kluthuk).

BOGOR – 2016

Pertemuan kedua terjadi tanpa sengaja. Saya sedang berlibur ke Kebun Raya Bogor bersama istri (baru beberapa bulan setelah menikah) sekira awal Desember 2016. Siang menjelang sore saya sedang ‘setengah berteduh’ di rindangnya pepohonan menghindari ‘setengah gerimis’ saat mobil Camry yang ditumpangi Pak Jokowi dan Bu Iriana melintas. Hanya ada saya dan istri di pinggir sisi kiri jalan saat mobil yang ditumpangi Pak Jokowi melintas pelan. Saya hanya bisa tersenyum kepada Pak Jokowi yang ada di dalam mobil (nggak mungkin juga mau teriak-teriak histeris). Tanpa saya duga, Pak Jokowi turut membalas tersenyum sambil memandang kami berdua. Senyum yang sama dengan senyum saat pertemuan saya dengan beliau di Solo tujuh tahun sebelumnya.

Dari kesan dua pertemuan dengan Pak Jokowi ini saya mempersepsikan pribadi beliau. Alasan yang sangat sederhana bagi saya dalam menilai personality Pak Joko Widodo. Dari respon senyum beliau memunculkan rasa sebagaimana saat saya bertemu dengan orang yang luwes dan ramah. Tidak ada sedikitpun muncul rasa takut atau terancam pada diri saya.

Saya baru satu kali bersalaman dengan beliau, dua kali bertatap muka dengan beliau. Sekilas menilai dari senyumannya, beginilah kesan saya bertemu dengan beliau.

Situs ini menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda dalam menelusuri situs ini. Kami akan menganggap Anda setuju dengan ini, tetapi Anda dapat memilih meninggalkan halaman ini jika tidak setuju. SetujuBaca Selengkapnya

%d blogger menyukai ini: