Blogsphere Archives - Nahdhi https://nahdhi.com Side Notes Wed, 27 Oct 2021 06:03:57 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.0 https://i0.wp.com/nahdhi.com/wp-content/uploads/2019/01/image-1.jpg?fit=32%2C32&ssl=1 Blogsphere Archives - Nahdhi https://nahdhi.com 32 32 110004917 Blogging dan Adaptasi Media Jenis Baru https://nahdhi.com/hari-blogger-nasional/ https://nahdhi.com/hari-blogger-nasional/#respond Wed, 27 Oct 2021 04:44:59 +0000 https://nahdhi.com/?p=558 Hari Blogger Nasional diperingati setiap 27 Oktober sejak tahun 2007. Pada saat itu komunitas blogger cukup beruntung hingga Menkominfo pada saat itu -Muhammad Nuh- mengakui eksistensi blogger dan menetapkan setiap tanggal 27 Oktober sebagai Hari Blogger Nasional.

Pada masa itu Hari Blogger Nasional pun bukan omong kosong belaka. Kurang lebih setiap akhir Oktober sekumpulan komunitas blogger meyelenggarakan Pesta Blogger Nasional. Sebelum acara puncak, didahului dengan acara-acara serupa dalam skala lebih kecil oleh komunitas-komunitas daerah. Acara intinya adalah jumpa darat (kopi darat, kopdar). Namun, menilik besarnya acara dengan peserta dari berbagai daerah dan terhitung ribuan blogger bisa dipastikan Pesta Blogger Nasional bukanlah acara kaleng-kaleng.

Image source: blogger.com

Wajar kalau Menkominfo mengakui eksistensi blogger. Acara Pesta Blogger -di luar kontroversi hak penggunaan namanya- dapat mengumpulkan blogger dari berbagai daerah dan latar belakang mempersatukan semuanya sebagai sesama bangsa Indonesia. Pada masa itu, hampir tidak ada komunitas online selain blogger yang bisa membuat acara sebesar itu di Indonesia.

Blogger lekat dengan tulis-menulis. Blogger disebut sebagai bagian dari citizen journalism.
Begitu dulu, begitu pun seharusnya sekarang.

Kehadiran jenis media populer baru microblogging (Twitter) pada masa itu tidak menggerus secara signifikan populasi blogger. Blogging dan microblogging dapat berjalan beriringan karena basis medianya sama-sama berupa teks tulisan. Begitu pun kehadiran photo sharing (Instagram) tidak berpengaruh banyak terhadap populasi blogger.

Namun, kehadiran media populer video sharing (Youtube, Vimeo) cukup menyita perhatian blogger. Tidak hanya blogger, penikmat konten media di internet pun cenderung memilih nonton video alih-alih membaca teks. Bisa dimaklumi. Konten video lebih menarik karena menggabungkan media audio dan visual bergerak secara bersamaan. Bandingkan dengan blog yang proporsi teks lebih dominan. Orang pun cenderung malas membaca dan lebih suka menonton/mendengar.

Beberapa blogger beradaptasi dengan mereka-reka konten blog dalam bentuk media populer baru berupa video. Blogger-blogger yang beradaptasi ini beberapa cukup populer dan melahirkan sematan baru “vlogger”, video blogger. Pun, kehadiran vlogger baru yang tidak memiliki latar belakang blogger tak sedikit. Sekarang di kalangan generasi Z dan generasi Alpha terma vlogger lebih populer dibandingkan dengan blogger itu sendiri.

Apakah masih relevan Hari Blogger Nasional dikumandangkan ditengah makin surutnya terma blogger?

Rasanya pertanyaan ini akan dijawab “ya” bagi mereka yang mengalami masa-masa popularitas blogging, yaitu para generasi X dan generasi Y. Pun saya akan menjawab dengan “ya” meski sekadar untuk memoar. Mengenang kopdar-kopdar yang pernah saya ikuti pada masa keemasan blogging di Indonesia. Betapa menyenangkan bisa berkumpul bersama narablog dari berbagai latar belakang. Sungguh mengasyikkan bertemu orang-orang baru yang sebelumnya hanya tahu dari tulisan-tulisan di blog atau yang sebelumnya berinteraksi sebatas melalui kolom komentar.

Oh ya, plesetan Blogger National (Cap Kipas Angin) bermula dari guyonan Kang Andy MSE yang mendapuk dirinya sendiri sebagai Blogger Cap Kipas Angin karena “ra kuat sanggane” kalau jadi Blogger Nasional. Pertama kali dipopulerkan di acara kopdar blogger (lupa antara di Wonosobo atau Solo). Hebatnya, sampai sekarang saya tidak tahu MSE di belakang nama Andy itu singkatan atau apa.

Ah… So yesterday…

Realitanya saya memang masih merasa bangga pernah menjadi bagian dalam komunitas blogger. Namun, kini saya sudah sangat jarang menghasilkan tulisan untuk situs blog saya sehingga rasanya cukup “tahu diri” untuk tidak terlalu menyemat diri sendiri sebagai blogger pada masa-masa seperti ini. Pun saya sejak 2014 mulai jarang membuat tulisan untuk blog.

Sejak itu saya beradaptasi dengan bentuk media populer baru -meski saya-nya nggak populer-, menjadi gaming video creator dan livestreaming (Twitch) meski sesekali masih membuat tulisan untuk blog saya. Sejak 2017 sampai sekarang saya mengambil jeda karena ada prioritas lain, kini saya mencoba menjajaki jenis media baru yang rasa-rasanya akan populer di kalangan generasi Alpha, Vtuber. Konteks kontennya menyerupai Vlogger tetapi disukai karena identitas dalam dunia nyata (in-real-life) tidak harus diungkapkan, termasuk wajah. Vtuber cukup dikenali dari ciri khas personal character -biasanya gambar animasi 2D/3D- yang dimiliki. Saya belum berencana membuat karakter yang dipersonalisasi untuk saya perankan tetapi kedepannya mungkin akan saya pertimbangkan. Jasa commisioning untuk membuat karakter personal dalam bentuk 3D lumayan mahal (hingga puluhan juta). Namun, saya rasa itu wajar jika dilihat dari usaha, keahlian, kreativitas, dan waktu yang harus dicurahkan para seniman pembuat karakter.

Image source: Up Station

Kalau pembaca sekalian penasaran apa itu Vtuber, sila melihat-lihat komunitas/korporasi Vtuber yang cukup populer semacam HoloLive, atau cari melalui search engine dengan kata kunci “Vtuber Hololive“.

Selamat Hari Blogger Nasional
Terima kasih untuk teman-teman blogger yang masih konsisten menulis di dalam blognya.

]]>
https://nahdhi.com/hari-blogger-nasional/feed/ 0 558
Identity Crisis: A Phial of Fantasia Problem https://nahdhi.com/identity-crisis/ https://nahdhi.com/identity-crisis/#respond Tue, 02 Feb 2021 08:59:51 +0000 https://nahdhi.com/?p=523 Sejak pertama kali bermain Final Fantasy XIV Online, saya sudah berkali-kali membuat dan menghapus karakter baru. Kustomisasi karakter yang lumayan lengkap di game ini membuatnya lebih mudah bagi saya untuk membuat penampilan karakter sesuai dengan personal saya atau karakter sesuai impian saya. Kadang saya membuat suatu karakter yang sesuai dengan personal saya, di lain waktu saya membuat karakter baru dengan penampilan karakter sesuai impian tentang karakter ideal. Masalahnya, saya tidak cukup konsisten dalam mendefinisikan seperti apa personal saya atau seperti apa karakter ideal impian saya.

Karakter pertama yang saya buat adalah ras hyur, ras yang paling mendekati wujud manusia. Saya mempersonalisasi karakter ini semirip mungkin dengan penampilan saya, termasuk gaya rambut, warna rambut, warna kulit, warna mata, bentuk wajah, bentuk hidung, tinggi badan, dan segala kustomisasi yang memungkinkan supaya semirip mungkin dengan personal saya.

Selang beberapa saat saya merasa tidak puas. Saya mencoba mengutak-atik penampilan karakter. Kali ini preferensi saya adalah penampilan karakter ideal. Karakter yang saya buat tentu saja female hyur, saya buat penampilannya seideal mungkin. Bahkan saya menghabiskan puluhan juta Gil hanya untuk galamour. Saya mencoba berbagai penampilan dengan mengubah baju, celana, sepatu, serta mencoba berbagai warna.

Lain waktu saya mengubah karakter dalam game dengan harapan karakter yang saya buat sesuai dengan personality saya. Masalahnya, semakin dalam saya melakukan penyesuaian justeru rasanya semakin jauh dari personality saya. Semakin jauh melakukan personalisasi karakter, semakin saya tersesat.

Saya memiliki kecenderungan tipe INTP (very good match), ISTP (very good match), dan ESTP (good match) berdasarkan kategorisasi Myer-Briggs Type Indicator. Singkatnya saya the architect sekaligus craftperson. Semakin mendalam saya melakukan penyesuaian karakter rasanya semakin tidak cocok makna filosofis dan penampilan fisiknya. Karakter yang saya buat menjadi tidak jelas. Kadang saya menyukai penampilan fisik yang saya buat tetapi tidak suka di suatu bagian lain atau sebaliknya.

Krisis identitas di dalam game seperti ini sungguh merepotkan, pasalnya setiap kali melakukan penyesuaian karakter di dalam game ini mandatory memerlukan Phial of Fantasia, ramuan supaya dapat mengubah karakter from-the-scratch. Masalahnya ramuan ini tidak dapat diperoleh melalui aktifitas di dalam game tetapi benar-benar membutuhkan real money, mata uang nyata. Bagi yang krisis identitas tentu saja ini problem mendasar bagi gamer kalau sudah menyangkut real money.

Rasanya krisis identitas di dalam game seperti ini cukup merefleksikan krisis identitas saya dalam kehidupan nyata.

This post first published on Identity Crisis: A Phial of Fantasia Problem – Alibergi’s Note

]]>
https://nahdhi.com/identity-crisis/feed/ 0 523
To dear our director… https://nahdhi.com/to-dear-our-director/ https://nahdhi.com/to-dear-our-director/#respond Sat, 12 Dec 2020 05:25:46 +0000 https://nahdhi.com/?p=473 On December 11th, 2020, director of company I worked at, who stand for this company from the first departed this world for another. “It was way too sudden…” I thought to myself, as I am still in disbelief.

The news came in on the afternoon of December 11th. I received a message from Alfian through company’s chat group. Alfian is my closest working partner who also worked closely with our director during work from home due to COVID-19 soaring across entire world. I just so happened to be took a break for fresh air after online meeting with client, I was picking on my phone, and open some news feed. Because of that, I noticed the messenger app notification right away, and the moment I saw the first text line, a heavy “hah…” audibly slipped out of my mouth.

Couple hours before, Mas Agus also send some snap on our company’s group, inform us that our director need an intensive care in hospital.

The last time I spoke with our director through phone call was December 9th, so only few days passed since then. When he told me “my signal is poor” and told “unable to work within next couple days and so on” because of this. I responded and give some advice to get wireless extender from online market or connect through cable. Earlier, he told me that some office applications on their MacBook Pro troubled and request password to log in. He want to send it to me within couple days for repair.

I first came to know him six years ago, on early of July 2014. I had been interviewed as technical support for company by him. He is a director from the first and made a statement “it would be good if you can join us next week”. It only means I officially joined company starting next couple days after that.

As long as I know, he was the kind of person who liked to find the good in any situation and wanted to be kind to as many of the people in the office, even with far adrift difference generations. In some moment years ago, he told a joke that wasn’t funny for me and others (age or generation difference matter) but all of us was laugh loudly. Not because of joke matter but the way he said to us. Because of this and that, all personnel in our company so close to each other even to director. I clearly remember a moment right before November this year, he told us to keep in contact and if we need anything from him, just call and come to him, do not hesitate to bother him.

I can remember this as if it just yesterday, but I am not able to see him anymore.

Come to think of it, I never received the Mac from him, unable to repair it for him, and send it back to him.

Once time passes, he will find me with some handy tools on my bag, saying: “Oh, you must be a late person! I don’t need to repair my Mac again, all of my account passwordless, and everything is well here”. In a place with good weather, nice folks, nice scene, and everything.

Rest in peace, pak Ismu. You did really well.

]]>
https://nahdhi.com/to-dear-our-director/feed/ 0 473
Electronic Sports https://nahdhi.com/electronic-sports/ https://nahdhi.com/electronic-sports/#comments Sat, 13 Apr 2019 16:52:59 +0000 https://nahdhi.com/?p=467 Kepada bapak-bapak dan ibu-ibu barangkali ada yang sedikit gamang dengan istilah e-Sports. Saya coba gambarkan secara sederhana bahwa e-sports itu ya hampir sama dengan turnamen atau kompetisi olahraga biasa, tetapi cabang yang dilombakan adalah game multiplayer (online game). Atletnya ada, yaitu para gamer yang biasanya dari berbagai tim e-sport.

ANALOG antara Sport dengan e-Sport
Stadion – Online Server
Cabang Olahraga (Sepakbola) – Game (Dota 2)
Pesepakbola (Zidane) – Gamer (Dahnil ‘Dendi’ Ishutin)
Tim Sepakbola (AC Milan) – Tim e-Sports (Natus Vincere)
Kompetisi (Piala Dunia) – Kompetisi (LoL World Championship)

e-Sports ini memang tengah berkembang pesat di dunia dan digandrungi anak muda maupun generasi milenial. Indonesia termasuk sedikit di belakang dalam pengembangan ekosistem e-Sports jika dibandingkan dengan US, Russia, Ukraina, China, Taiwan, Jepang, dll. Di Asia Tenggara negara yang termasuk merespon cepat perkembangan e-Sport adalah Singapura dan Malaysia. Meski sedikit di belakang tetapi bukan berarti terlambat.

Untuk gambaran seberapa besar perputaran uangnya. Salah satu kompetisi e-Sport dunia, League of Legends World Championship 2018 memberikan hadiah dalam kejuaraan sebesar 11 juta USD. Bahkan kejuaraan DOTA2 Dunia hadiah untuk event tahun 2018 sebesar 25 juta USD.

Berikut salah satu contoh event grand final e-sport hanya untuk satu game. Hampir setiap kejuaraan dunia untuk game populer semacam DOTA2, League of Legends, Counter Strike, Rainbow Six selalu ramai dan diminati oleh kalangan muda dunia. Perusahaan semacam Mastercard, PSG, Redbull dan beberapa ada lagi pun menanamkan modalnya di ranah e-Sport.

Indonesia saya yakin bisa menyelenggarakan event e-sport sebesar ini. Jadikan gelanggang olahraga seukuran Istora Senayan sebagai arena of e-sport.

Arena of e-Sports image:
Bloomberg (Inside Tencent's Gambit to Dominate a $13 Billion Esports Arena, 25 Juli 2018)
]]>
https://nahdhi.com/electronic-sports/feed/ 2 467
Internet https://nahdhi.com/internet/ https://nahdhi.com/internet/#respond Mon, 08 Oct 2018 16:46:17 +0000 https://nahdhi.com/?p=168 Saya runtut ulang kalender di gawai, rupanya hari ini sudah berjalan 8 bulan lebih saya tinggal sendirian di Jakarta. Anak dan istri saya untuk sementara waktu tinggal di Jogja. Selama 8 bulan berjalan itu pula saya secara periodik menempuh perjalanan Jakarta-Jogja, utamanya ya supaya bisa ketemu mereka berdua. Sehari-hari saya tidak ketemu dengan mereka, dalam satu bulan kadang hanya bisa ketemu 4-6 hari.

Sebagai penghiburan, setiap menjelang malam selama saya di Jakarta selalu ada kegiatan rutin, video call. Praktis, internet sangat diperlukan untuk menunjang video call. Di Jakarta saya rasa tidak terlalu bermasalah karena akses internet ada di mana-mana dengan kualitas dan kecepatan tidaklah buruk. Di Jogja, di lokasi tertentu meski masuk wilayah perkotaan pun masih ada spot-spot yang kurang terjangkau sinyal internet. Tak jarang saat video call terdapat delay dan buffer.

Internet lambat itu menyebalkan.

]]>
https://nahdhi.com/internet/feed/ 0 168
Souvenirs (Archive) https://nahdhi.com/souvenirs/ https://nahdhi.com/souvenirs/#respond Fri, 31 Aug 2018 17:00:11 +0000 https://nahdhi.com/?p=97 https://nahdhi.com/souvenirs/feed/ 0 97