Aku Datang untuk Berlindung dari Hujan

By Muh.Ahsan 7 months agoNo Comments

Aku dalam perjalanan pulang kerja sore itu. Guyuran hujan yang tiba-tiba tertumpah cukup deras membuatku terpikir untuk mampir ke warung pinggir jalan yang menjajakan bermacam hidangan sekedar untuk menghangatkan badan. Inilah satu-satunya lapak yang selalu buka setiap saat, dengan satu Pedagang yang sama sepanjang waktu.

Setelah berhenti di tempat parkir yang disediakan, aku berjalan menelusuri jalan setapak berkarpet merah menuju ruang kecil tempat untuk membasuh muka. Kutelusuri kembali jalan setapak itu menuju dalam ruangan lesehan berkarpet hijau. Rupanya Sang Pedagang telah siap sedari tadi khusus untuk menyambutku, digelarnya karpet merah sepanjang lorong sampai ke dalam ruangan untuk lesehan itu, suara puji-pujian mengiringi langkahku. Aku disambut bak raja yang telah lama tak berkunjung.

Kusapa Sang Pedagang itu.

“Maafkan saya, lama tidak kemari.”

Sang Pedagang mengerti kalau aku memang lama tak mengunjungi. Namun Sang Pedagang tak pilih-pilih, tetap melayani siapapun yang datang padanya dengan ramah. Siapapun dianggapnya sebagai raja sekaligus bak pelanggan loyal.

Selang beberapa saat, kunikmati berbagai pilihan hidangan yang dijajakan Sang Pedagang sore itu. Hidangan yang begitu nikmat dan menenangkan tatkala hujan mengguyur makin deras di luar sana. Ketika hujan hampir reda kuhampiri Sang Pedagang jajanan itu, kusodorkan uang beberapa rupiah sebagai imbal jasa atas hadirnya hidangan-hidangan yang kunikmati. Syahdan, Sang Pedagang menolak menerima receh yang kusodorkan tadi.

“Nak, semua yang kusajikan ini adalah gratis.”

Aku terheran-heran, lantas kutambahkan lagi beberapa rupiah. Kupikir karena uang yang kuberikan terlalu sedikit.

“Nak, kalau kau tetap memaksa maka berilah secukupnya. Aku tak suka berlebihan.”

Aku semakin heran, Sang Pedagang justru mengembalikan recehan tersebut, bahkan dikembalikannya lebih banyak dari yang kuberikan tadi.

Kucoba berikan lagi beberapa kali. Tiap kali kutambahkan recehan itu, semakin banyak yang dikembalikan. Terbersit dalam pikiranku, untuk memberikan lebih, lebih, dan lebih. Supaya kembaliannya lebih banyak lagi. Kulakukan terus menerus, berharap semakin banyak yang kudapatkan.

Celakalah aku, suatu waktu Sang Pedagang tak memberiku kembalian sebagaimana kuharapkan.

“Kau kemari bukan untuk mengambil keuntungan atas kemurahanku, kan?”

“Ingatlah niatmu, kenapa kau tadi menghampiri lapakku?”

Category:
  Personal
this post was shared 0 times
 100

Leave a Reply

%d bloggers like this: